Tampilkan postingan dengan label Nasehat Orang Mulia. Tampilkan semua postingan

Buya Hamka berpesan bahwa seorang muslim haruslah memiliki pribadi yang berani, bersemangat, mandiri dan tidak selalu bergantung kepada orang lain. Beliau mengutip kisah yang sangat termasyur dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a. diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW memasuki masjid. Tiba-tiba ada seorang pemuda yang sudah duduk lama di dalam masjid, pemuda itu bernama Abu Umamah. Rasulullah SAW bertanya kepadanya : "Wahai Abu Umamah, mengapa aku melihatmu duduk di masjid pada waktu-waktu di luar shalat?" Abu Umamah menjawab, "Aku sedang dilanda kesusahan dan dililit hutang-hutang wahai Rasulullah."

Rasulullah kemudian bersabda kepadanya, "Ketauhilah aku akan mengajarkan kepadamu ucapan yang apabila engkau mengucapkannya, maka Allah SWT akan menyingkirkan kesedihan dan membayarkan hutang-hutangmu. Ucapkanlah pada waktu pagi dan sore.

" اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

"Allahumma inni a'udzubika minal hammi wal hazani wa a'udzubika minal 'ajzi wal kasali wa a'udzubika minal jubni wal bukhli wa a'udzubika min ghalabatiddaini wa qahrirrijali"
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari kegelisahan dan kesedihan. Aku berlindung kepada Engkau dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepada Engkau dari sifat pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia."

Kata Abu Umamah radhiyallahu 'anhu: "Setelah membaca do'a tersebut, Allah berkenan menghilangkan kebingunganku dan membayarkan lunas semua hutangku." (HR Abu Dawud 4/353) Doa ampuh yang diajarkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam kepada Abu Umamah radhiyallahu ’anhu merupakan doa untuk mengatasi problem hutang berkepanjangan.

Rep: Nasihat Iman
Editor: Admin Pendidikan Gratis...



Seorang Ulama dan guru saleh, mengisi berbagai waktunya dengan bekerja sebagai pedagang. Suatu ketika ia membeli madu seharga 30,000 dirham untuk mengisi persedian barang dagangannya yang telah menipis.
keesokan harinya ternyata harga medu meningkat derastis hingga dua kali lipatnya, sang penjual jadi menyesal telah melepaskan (menjual) pada hari sebelumnya itu, tetapi pennyesalan selalu datang terlambat, mana mungkin untuk membatalkan sedangkan uangnya telah ia terima, dan barang-barangnya telah di bawa oleh pembeli, (guru yang saleh itu), sedih dan penyesalan itu begitu menggelayuti pikirannya, sehingga mengundang perhatian teman-temannya.
setelah mengetahui permasalahannya, salah seorang temannya yang sangat mengenal ahlak guru yang saleh(san pembeli madu itu), berkata "besok pagi datanglah sholat subuh bersama guru yang saleh, san pembeli madu itu menuruti saran temannya itu, dengan membawa uang 30,000 dirham, setelah beliau selesai sholat dan berdoa "mendekatlah dan berkata: saya menyesal telah menjual maduku itu pada tuan itu saja, jangan ditambah dan dikurangi, insyaAllah engkau tidak akan mengalami kerugian sedikitpun"
ia menuruti saran temannya, usai sholat dan berdoa ia segera menghadap pada sang guru dan berkata"wahai tuang guru saya menyesal telah mengjual maduku pada tuang"!!
guru yang saleh itu memandangnya sesaat dan berkata kepada pembantunnya/pegawainya, "bangunlah, dan kembalikan madu yang kita beli itu kepada orang ini!!
sang penjual sangat gembira dan mengembalikan uang 30,000 dirham yang telah diterimannya itu salah satu jamaah yang hadir ada yang berkata, "wahai tuang guru, sejak kemarin harga madu meningkat dua kali lipatnya, mengapa hannya di kembalikan begitu saja ??
sang guru berkata "mengapa tidak"?? sunggu aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda: barang siapa yang mau membatalkan pembeliannya pada orang yang menyesal dalam penjualannya, maka Allah akan memaafkan dosa-dosanya di hari kiamat kelak, tidaklah sepantasnnya aku membeli manfaatnya Allah atas dosa-dosaku dengan (calon keuntunnganku) 30,000 dirham sedang sedikitpun aku tidak di rugikan??" 


Rep: Kisah Islami
Editor: Admin Pendidikan Gratis...
Satu suri tauladan lebih baik daripada seribu nasihat. Demikian motivasi yang tak asing didengar. Patut disyukuri, belakangan ini ragam kegiatan keagamaan dan keilmuan mulai marak di mana-mana.
Terlebih dengan akses informasi dan komunikasi yang kian berkembang pesat. Setidaknya orang jadi mudah mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang kebaikan dan ilmu agama. Mulai dari kumpulan pengajian, majelis taklim, hingga nasihat dan pesan kebaikan yang disebar melalui internet atau media-media sosial lainnya.
Bagi seorang Muslim, semua itu tentunya bukan alasan yang menghalangi dirinya untuk menampilkan keteladanan dalam keseharian. Justru sebaliknya, menjadi motivasi yang menguatkan bahwa nasihat secara lisan saja tidak cukup tanpa amal dan contoh nyata di lapangan.
Dikisahkan, seorang anak kecil sangat suka makan manisan, sampai-sampai sang ibu merasa khawatir jika anak tersebut ketagihan. Berkali-kali sang ibu menasihati anak itu namun tidak mempan. Hingga akhirnya ibu itu menyuruh sang ayah untuk membawa anak itu kepada salah satu ulama di luar kota. Pergilah anak dan ayah itu menemui seorang ulama. Setibanya di rumah ulama, sang ayah mengadukan masalah anaknya yang berlebihan mengkonsumsi manisan. Ia berharap ulama itu menasihati anaknya.
Ulama itu berkata: Silakan pulang dahulu. Sebulan kemudian datanglah kemari dan mintalah nasihat kepadaku. Meski heran, ayah itu tetap pulang dan balik lagi setelah masa penantian itu berakhir.
Ulama itu bertanya: Wahai kau anak muda apakah kau masih suka makan manisan?” Anak itu mengiyakan pertanyaan tersebut.
“Mulai sekang kau harus mengurangi makan manisan karena orangtuamu khawatir membuatmu ketagihan,” Sang anak hanya mengangguk. Ayah itu merasa heran dan bertanya kepada ulama “Apakah sama jika nasihat yang kau berikan hari ini untuk anakku dengan nasihat yang seharusnya kau sampaikan bulan lalu?”
Ulama tersebut tersenyum, “Jika bulan lalu aku menasihati anakmu tentu ia tidak akan mengubah kebiasaannya. Karena aku juga suka makan manisan sebelumnya.”
Kisah ulama di atas mengajarkan pentingnya keteladanan dalam pendidikan atau dakwah. Apalagi jika teladan itu datang dari guru, orangtua, atau pemimpin.
Nasihat sekecil apapun akan bermakna jika diiringi dengan teladan yang baik. Bukan sebatas berkoar apalagi jika hanya pencitraan semata tanpa implementasi nyata di lapangan.
Kini, saatnya memulai pembibitan generasi unggul tersebut. Salah satunya dengan menanamkan ilmu dan adab kepada anak-anak di setiap keadaan.
Sebab menuntut ilmu tak hanya berlaku di sekolah formal, tapi nilai pendidikan itu juga ada di keluarga, lingkungan, dan masyarakat umum.

Rep: Hidcom
Editor: Admin Pendidikan Gratis...

- Copyright © Pendidikan Gratis Anak Indonesia -Shinpuru v2- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -