Tampilkan postingan dengan label Buka Hati dan Pikiran. Tampilkan semua postingan
Tak bisa dipungkiri, Bahwa Doa Orang Tua Adalah Modal Terbesar Kesuksesan Seorang Anak, Kesuksesan yang dicapai oleh seseorang tak biaa lepas dari peran orang tua. Terutama doa mereka. Ya, doa orang tua adalah doa yang paling mustajab, terutama doa seorang Ibu, karena doa dari mereka untuk anaknya bisa menembus langit, entah doa baik ataupun buruk.
Mungkin sebagian orang masih tidak sadar bahwa kemungkinan kesuksesan-kesuksesannya selama ini adalah buah dari doa orang tua kepada Allah tanpa ia ketahui. Dan seorang ibu itu tanpa disuruh pasti akan selalu mendoakan anaknya di tiap nafasnya kala bermunajat kepada Allah. Tapi seorang anak belum tentu selalu berdoa untuk orang tuanya.
Barangkali juga kita suka mengeluh tentang sifat buruk orang tua, entah karena ibu nya cerewet, suka ikut campur, suka nyuruh-nyuruh, tidak gaul dan lain sebagainya. Jika seperti ini maka tragis. Kenapa tragis? Karena terlalu fokus dengan secuil kekurangan orang tua dan melupakan segudang kebaikan yang telah diberikan kepada kita selama ini.
Di luar sana mungkin ada orang-orang di pinggir jalanan, di bawah kolong jembatan dan di tempat lainnya mereka juga suka mengeluh, tapi yang mereka keluhkan ialah bukan karena sifat orang tua mereka, tapi mereka mengeluh karena mereka tidak punya lagi orang tua.
Bersyukurlah jika masih mempunyai orang tua. Jika ingin tahu rasanya tidak punya orang tua, coba tanyakan kepada mereka yang salah satu orang tuanya telah tiada. Mungkin perasaan mereka sangat sedih dan kekurangan motivasi dalam hidup.
Coba bayangkan jika kita tidak punya orang tua, ketika kita akan pergi ke luar rumah untuk sekolah atau bekerja, tidak ada lagi tangan yang bias kita cium. tidak ada lagi makanan yang tersedia di meja makan saat kita pulang. ketika hari lebaran rumah terasa sepi dan lebaran terasa tanpa makna.
Suatu ketika saya pernah mendapati seorang tetangga ketika menyiram tembakau berkata pada anaknya sambil meneteskan air mata: "Semoga melaratmu saya saja yang tanggung nak, semoga hidupmu dimudahkan oleh Allah."
Doa orang tua seperti diatas sebenarnya tipikal saja, alias biasa dan lumrah. Hanya saja, ketika kisah ini diceritakan sendiri oleh anak miskin dan mempunyai masa lalu kelam hinggak akhirnya mencapai kesuksesan pada masa kininya maka kisah ini akan memiliki getaran yang berbeda. Sangat mengharukan.
Modal utama kesuksesan seorang anak adalah Doa orang tuanya. Jika kita adalah orang tua, jangan pernah bosan bosan untuk mendoakan anak-anak kita. Kalau kita adalah anak, jangan sekali kali anggap remeh peran doa orang tua kita. Kalau kita sudah sukses, yakinilah bahwa dalam kesuksesan kita ada doa orang tua sebagai ruh kesuksesan itu sendiri. Lalu, sudahkah kita berbuat sesuatu untuk orang tua kita?
Anak tetangga yang saya ceritakan diatas, Hanya punya 2 stel baju dan celana, sepatunya sepatu rusak dan itupun cuma sepasang saja. Anak tersebut selalu tersenyum walau hidupnya pun tak punya masa depan yang jelas. Satu-satunya penguat semangatnya adalah suara orang tuanya yang selalu terngiang di telinganya: "semoga cukup saya saja yang melarat, semoga engkau bahagia."
Ketika anak tersebut sudah beranjak dewasa, Ada seorang ulama besar yang ingin menjadikannya menantu. Semua tetangganya mencibirnya dan berkata: "kok memilihnya jadi menantu, apa yang bisa diharapkan, dia takkan bisa membuat bahagia."
Sang calon mertua tak bertanya pekerjaan dan penghasilannya. Bertanya masalah duniawi hanya menjadi penghinaan ketika melihat fakta pakaian dan celananya jauh dari kata sederhana, terlihat beberapa bekas jahitan cukup banyak.
Pertanyaan mertuanya hanya satu: "apa kamu bisa ngaji nak?" Dijawabnya dengan anggukan kecil." Lalu dinikahkanlah dia dengan putrinya yang taat kepada orang tua.
Masya Allah, Mertua yang sangat wira'i, mendahulukan pertimbangan agama dalam mencari menantu.
Saat ini anak tetangga saya itu menjadi lelaki yang diberkahi Allah. Harta yang dimilikinya bisa dikatakan lebih dari cukup, punya anak shalih shalihah dan kehidupan yang damai bahagia.
Mungkin sebagian orang masih tidak sadar bahwa kemungkinan kesuksesan-kesuksesannya selama ini adalah buah dari doa orang tua kepada Allah tanpa ia ketahui. Dan seorang ibu itu tanpa disuruh pasti akan selalu mendoakan anaknya di tiap nafasnya kala bermunajat kepada Allah. Tapi seorang anak belum tentu selalu berdoa untuk orang tuanya.
Barangkali juga kita suka mengeluh tentang sifat buruk orang tua, entah karena ibu nya cerewet, suka ikut campur, suka nyuruh-nyuruh, tidak gaul dan lain sebagainya. Jika seperti ini maka tragis. Kenapa tragis? Karena terlalu fokus dengan secuil kekurangan orang tua dan melupakan segudang kebaikan yang telah diberikan kepada kita selama ini.
Di luar sana mungkin ada orang-orang di pinggir jalanan, di bawah kolong jembatan dan di tempat lainnya mereka juga suka mengeluh, tapi yang mereka keluhkan ialah bukan karena sifat orang tua mereka, tapi mereka mengeluh karena mereka tidak punya lagi orang tua.
Bersyukurlah jika masih mempunyai orang tua. Jika ingin tahu rasanya tidak punya orang tua, coba tanyakan kepada mereka yang salah satu orang tuanya telah tiada. Mungkin perasaan mereka sangat sedih dan kekurangan motivasi dalam hidup.
Coba bayangkan jika kita tidak punya orang tua, ketika kita akan pergi ke luar rumah untuk sekolah atau bekerja, tidak ada lagi tangan yang bias kita cium. tidak ada lagi makanan yang tersedia di meja makan saat kita pulang. ketika hari lebaran rumah terasa sepi dan lebaran terasa tanpa makna.
Suatu ketika saya pernah mendapati seorang tetangga ketika menyiram tembakau berkata pada anaknya sambil meneteskan air mata: "Semoga melaratmu saya saja yang tanggung nak, semoga hidupmu dimudahkan oleh Allah."
Doa orang tua seperti diatas sebenarnya tipikal saja, alias biasa dan lumrah. Hanya saja, ketika kisah ini diceritakan sendiri oleh anak miskin dan mempunyai masa lalu kelam hinggak akhirnya mencapai kesuksesan pada masa kininya maka kisah ini akan memiliki getaran yang berbeda. Sangat mengharukan.
Modal utama kesuksesan seorang anak adalah Doa orang tuanya. Jika kita adalah orang tua, jangan pernah bosan bosan untuk mendoakan anak-anak kita. Kalau kita adalah anak, jangan sekali kali anggap remeh peran doa orang tua kita. Kalau kita sudah sukses, yakinilah bahwa dalam kesuksesan kita ada doa orang tua sebagai ruh kesuksesan itu sendiri. Lalu, sudahkah kita berbuat sesuatu untuk orang tua kita?
Anak tetangga yang saya ceritakan diatas, Hanya punya 2 stel baju dan celana, sepatunya sepatu rusak dan itupun cuma sepasang saja. Anak tersebut selalu tersenyum walau hidupnya pun tak punya masa depan yang jelas. Satu-satunya penguat semangatnya adalah suara orang tuanya yang selalu terngiang di telinganya: "semoga cukup saya saja yang melarat, semoga engkau bahagia."
Ketika anak tersebut sudah beranjak dewasa, Ada seorang ulama besar yang ingin menjadikannya menantu. Semua tetangganya mencibirnya dan berkata: "kok memilihnya jadi menantu, apa yang bisa diharapkan, dia takkan bisa membuat bahagia."
Sang calon mertua tak bertanya pekerjaan dan penghasilannya. Bertanya masalah duniawi hanya menjadi penghinaan ketika melihat fakta pakaian dan celananya jauh dari kata sederhana, terlihat beberapa bekas jahitan cukup banyak.
Pertanyaan mertuanya hanya satu: "apa kamu bisa ngaji nak?" Dijawabnya dengan anggukan kecil." Lalu dinikahkanlah dia dengan putrinya yang taat kepada orang tua.
Masya Allah, Mertua yang sangat wira'i, mendahulukan pertimbangan agama dalam mencari menantu.
Saat ini anak tetangga saya itu menjadi lelaki yang diberkahi Allah. Harta yang dimilikinya bisa dikatakan lebih dari cukup, punya anak shalih shalihah dan kehidupan yang damai bahagia.
Rep: Kurir Imfo
Editor: Admin Pendidikan Gratis...
Editor: Admin Pendidikan Gratis...
SETIAP anggota keluarga memiliki porsi cinta dan kasih sayang masing-masing. Demikian fitrah yang digariskan bagi setiap manusia yang menjalani bingkai kehidupan berkeluarga.
Uniknya meski keluarga adalah orang-orang terdekat yang patut dikasihi dan dicintai, Allah Subhanahu Wata’ala justru mengingatkan hal sebaliknya.
Keadaan yang sangat bertolak belakang dengan sebelumnya. Yaitu, mereka juga bisa jadi musuh bagimu maka berhati-hati dengannya.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS: at-Taghabun [64]: 14)
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS: at-Taghabun [64]: 14)
Disebutkan, alaram itu menyala jika keluarga tak lagi berfungsi sebagaimana fitrahnya, tempat meraih sakinah (kebahagiaan) mawaddah (kasih sayang), dan rahmat.
Allah mengingatkan, meski berbalut ikatan cinta yang halal, namun potensi yang terkandung pada dorongan syahwat bisa saja lepas tak terkendali.
Allah mengingatkan, meski berbalut ikatan cinta yang halal, namun potensi yang terkandung pada dorongan syahwat bisa saja lepas tak terkendali.
Ibarat seekor kuda yang lepas dari tali kekangnya, hewan tunggangan yang semula jinak dan bersahabat tadi tiba-tiba berubah menjadi liar dan memusuhi tuannya sendiri.Alhasil, semangat yang terbangun dalam keluarga bukan lagi spirit tanashuh (saling menasihati) dalam amal shalih dan ketaatan. Namun ia berubah menjadi sarana dalam mengerjakan keburukan dan kemaksiatan.
Imam al-Qadhi Abu Bakar bin al-Arabi berkata: Permusuhan yang terjadi di sini bukanlah secara hukum asal karena istri dan anak itu pada hakikatnya adalah karunia dari Allah.Mereka berubah menjadi musuh atau lawan karena adanya perilaku menyimpang dan sifat buruk yang dipunyai anggota keluarga tersebut.
Sedang tiadalah perbuatan paling buruk dan dimusuhi oleh Allah kecuali yang berusaha memalingkan kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya. Lebih jauh, Abdurrahman as-Sa’di dalam Tafsir as-Sa’di menguatkan, tidaklah Allah menyebut sebagian keluarga sebagai musuh kecuali karena dampak yang ditimbulkan benar-benar berbahaya. Ibarat musuh dalam suatu peperangan, maka yang musuh fikirkan hanyalah satu saja. Yaitu menjerumuskan lawannya kepada kebinasaan.
Inilah puncak badai yang terjadi dalam sebuah keluarga. Ketika di antara anggota keluarga justru saling menjauhkan dari beramal shalih dan taat kepada Allah. Untuk itu, al-Hasan al-Bashri menyatakan: kata “min azwajikum wa auladikum” bermakna sebagian saja (li at-tab’idh).
Sebab hukum asal suatu pernikahan dalam Islam adalah sunnah. Sebagai sarana dan alat peraga efektif untuk saling menguatkan dalam hal kebaikan dan ketaatan di antara sesama mereka.
Dalam masyarakat, keluarga juga menjadi simpul awal dalam memproses potensi amanah dan kepemimpinan seseorang. Di saat yang sama, keluarga juga menjadi pondasi dasar seorang anak beroleh ilmu dari kedua orang tuanya.
Imam Ibnu Katsir lalu mengutip sebuah hadits yang diceritakan oleh Abu Malik al-Asy’ari. Nabi bersabda, ”Bukanlah permusuhan ini yang jika kalian membunuhnya maka kalian lalu merasa mendapatkan kemenangan. Sebagaimana kalian tak juga dapat jaminan masuk surga jika kalian terbunuh dan dikalahkan dalam permusuhan ini. Sebab boleh jadi musuh-musuhmu tak lain adalah anak keturunan yang lahir dari rahim tulang rusukmu sendiri.” (Riwayat ath-Thabrani).
Terakhir, Imam al-Qurthubi menyimpulkan tafsirannya, ayat ini mencakup perintah berhati-hati secara umum, baik kepada laki-laki sebagai suami maupun perempuan sebagai istri.
Meskipun secara tersurat lebih ditujukan kepada laki-laki sebagai nakhoda utama dalam sebuah keluarga. Namun dalam tataran realitas, tak ada jaminan jika titik permasalahan itu selalu bersumber dari istri dan anak. Sebab boleh jadi biang permusuhan itu justru datang dari sang suami yang notabene selaku kepala keluarga
Editor: Admin Pendidikan Gratis...
Tentu saja beragam respon bermunculan, terlebih ungkapan hebat itu muncul saat Indonesia baru saja lahir sebagai bangsa. Namun, pernah kah kita sadari bahwa sebuah kalimat hebat tidak mungkin lahir dari hati dan pikiran yang tak bernilai?
Bernilai artinya punya etos juang tinggi, empati mendalam terhadap penderitaan bangsanya sendiri. Dan, itulah yang dirasakan oleh para pahlawan bangsa terdahulu.
Dan, karen aitu, Albert Einstein (1879 – 1955) lebih mendorong penduduk dunia menjadi manusia yang bernilai. “Cobalah untuk tidak menjadi seorang yang sukses, tapi jadilah seorang yang bernilai.”
Ungkapan ini terasa relevan di zaman sekarang. Faktanya memang tidak sedikit. Misalnya ada anak yang malas belajar tapi lulus juga. Kalau standar sukses adalah lulus, maka buat apa lulus tanpa nilai pribadi yang kuat.
Oleh karena itu, Islam sangat mengutuk orang yang tidak mau berpikir. Ibn Al-Jauzi dalam kitabnya “Shaidul Khatir” menulis, “Barang siapa yang menggunakan pikirannya yang jernih, niscaya ia akan menunjukkan untuk mencari kedudukan ang paling mulia, dan mencegahnya dari sikap ridha terhadap kekurangan dalam segala hal.”
“Maka,” lanjut Ibn Al-Jauzi, “Seorang yang berakal sudah seyogyanya bisa sampai pada puncak dari apa yang dia mampu. Sekiranya masuk akal bagi seorang anak manusia untuk naik ke langit, maka menurutku merupakan kekurangan yang paling jelek kalau dia sudah merasa puas di bumi.
Seandainya kenabian bisa diraih dengan kesungguhan upaya, maka menurutku orang yang bermalas-malasan untuk merahnya berada di jurang kehinaan yang dalam. Hanya saja kalau itu semua memang tidak mungkin, maka seharusnya dia mencari apa yang mungkin (dia lakukan).
Dan, sejarah hidup yang elok menurut para ahli hikmah adalah keluarnya jiwa menuju puncak kesempurnaannya mungkin bisa digapai dalam bidang ilmu dan amal.”
Capaian anak Adam memang tidak bisa sim salabim, sekali jadi, atau sistem kebut semalam. Ada proes yang harus dilalui, ada ‘mahar’ yang mesti dibayar. Sekedar menemukan lampu pijar, Edison harus rela melakukan 1000 kali lebih percobaan. Bahkan Sultan Muhammad Al-Fatih bisa menaklukkan Konstantinopel setelah berabad-abad lamanya cita-cita tinggi keluarga khalifah ingin mewujudkannya.
Oleh karena itu, sebagai apapun diri kita, di usia berapapun, dan dimanapun berada, cita-cita hendaknya terus berkobar-kobar di dalam dada.
Ibn Al-Jauzi memberikan saran yang sangat realistis bagi kita semua. “Sekiranya engkau bisa melewati setiap sosok ulama dan ahli zuhud, maka lakukanlah. Karena mereka adalah manusia (biasa), dan engkau pun juga manusia (biasa). Dan tidaklah seseorang duduk (berpangku tangan) kecuali dikarenakan hina dan rendahnya cita-cita.”
Cita-cita Rasulullah
Dalam riwayat Ahmad dan An-Nasa`i, dari Abu Sukainah radhiyallahu ‘anhu dari salah seorang shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya dengan sanad yang jayyid, disebutkan:
لَمَّاأَمَرَالنَّبيُّصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَبِحَفْرِالْخَنْدَقِعَرَضَتْلَهُمْصَخْرَةٌحَالَتْبَيْنَهُمْوَبَيْنَالْحَفْرِفَقَامَرَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَوَأَخَذَالْمِعْوَلَوَوَضَعَرِدَاءَهُنَاحِيَةَالْخَنْدَقِوَقَالَ: تَمَّتْكَلِمَةُرَبِّكَصِدْقًاوَعَدْلاًلاَمُبَدِّلَلِكَلِمَاتِهِوَهُوَالسَّمِيْعُالْعَلِيْمُ. فَنَدَرَثُلُثُالْحَجَرِوَسَلْمَانُالْفَارِسِيُّقَائِمٌيَنْظُرُفَبَرَقَمَعَضَرْبَةِرَسُوْلِاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَبَرْقَةٌثُمَّضَرَبَالثَّانِيَةَوَقَالَ: تَمَّتْكَلِمَةُرَبِّكَصِدْقًاوَعَدْلاًلاَمُبَدِّلَلِكَلِمَاتِهِوَهُوَالسَّمِيْعُالْعَلِيْمُ. فَنَدَرَالثُّلُثُاْلآخَرُفَبَرَقَتْبَرْقَةٌفَرَآهَاسَلْمَانُثُمَّضَرَبَالثَّالِثَةَوَقَالَ: تَمَّتْكَلِمَةُرَبِّكَصِدْقًاوَعَدْلاًلاَمُبَدِّلَلِكَلِمَاتِهِوَهُوَالسَّمِيْعُالْعَلِيْمُ. فَنَدَرَالثُّلُثُالْبَاقِيوَخَرَجَرَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَفَأَخَذَرِدَاءَهُوَجَلَسَ،قَالَسَلْمَانُ: يَارَسُوْلَاللهِرَأَيْتُكَحِيْنَضَرَبْتَمَاتَضْرِبُ َرْبَةًإِلاَّكَانَتْمَعَهَابَرْقَةٌ. قَالَلَهُرَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَ: يَاسَلْمَانُ،رَأَيْتَذَلِكَ؟فَقَالَ: إِي،وَالَّذِيبَعَثَكَبِالْحَقِّيَارَسُوْلَاللهِ. قَالَ: فَإِنِّيحِيْنَضَرَبْتُالضَّرْبَةَاْلأُولَىرُفِعَتْلِيمَدَائِنُكِسْرَىوَمَاحَوْلَهَاوَمَدَائِنُكَثِيْرَةٌحَتَّىرَأَيْتُهَابِعَيْنَيَّ. قَالَلَهُمَنْحَضَرَهُمِنْأَصْحَابِهِ: يَارَسُوْلَاللهِ،ادْعُاللهَأَنْيَفْتَحَهَاعَلَيْنَاوَيُغَنِّمَنَادِيَارَهُمْوَيُخَرِّبَبِأَيْدِيْنَابِلاَدَهُمْ. فَدَعَارَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَبِذَلِكَ. ثُمَّضَرَبْتُالضَّرْبَةَالثَّانِيَةَفَرُفِعَتْلِيمَدَائِنُقَيْصَرَوَمَاحَوْلَهَاحَتَّىرَأَيْتُهَابِعَيْنَيَّ. قَالُوا: يَارَسُوْلَاللهِادْعُاللهَأَنْيَفْتَحَهَاعَلَيْنَوَيُغَنِّمَنَادِيَارَهُمْوَيُخَرِّبَبِأَيْدِيْنَابِلاَدَهُمْ. فَدَعَارَسُولُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَبِذَلِكَ. ثُمَّضَرَبْتُالثَّالِثَةَفَرُفِعَتْلِيمَدَائِنُالْحَبَشَةِوَمَاحَوْلَهَامِنَالْقُرَىحَتَّىرَأَيْتُهَابِعَيْنَيَّ. قَالَرَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَعِنْدَذَلِكَ: دَعُواالْحَبَشَةَمَاوَدَعُوْكُمْ،وَاتْرُكُواالتُّرْكَمَاتَرَكُوْكُمْ
“Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan penggalian Khandaq, ternyata ada sebongkah batu sangat besar menghalangi penggalian itu. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit mengambil kapak tanah dan meletakkan mantelnya di ujung parit, dan berkata: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Terpecahlah sepertiga batu tersebut. Salman Al-Farisi ketika itu sedang berdiri memandang, dia melihat kilat yang memancar seiring pukulan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau memukul lagi kedua kalinya, dan membaca: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Pecah pula sepertiga batu itu, dan Salman melihat lagi kilat yang memancar ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul batu tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul sekali lagi dan membaca: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Dan untuk ketiga kalinya, batu itupun pecah berantakan. Kemudian beliau mengambil mantelnya dan duduk. Salman berkata: “Wahai Rasulullah, ketika anda memukul batu itu, saya melihat kilat memancar.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Wahai Salman, engkau melihatnya?” Kata Salman: “Demi Dzat yang mengutus anda membawa kebenaran, betul wahai Rasulullah.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika saya memukul itu, ditampakkan kepada saya kota-kota Kisra Persia dan sekitarnya serta sejumlah kota besarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.”
Para shahabat yang hadir ketika itu berkata: “Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar membukakannya untuk kami dan memberi kami ghanimah rumah-rumah mereka, dan agar kami hancurkan negeri mereka dengan tangan-tangan kami.”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa. “Kemudian saya memukul lagi kedua kalinya, dan ditampakkan kepada saya kota-kota Kaisar Romawi dan sekitarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.”
Para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar membukakannya untuk kami dan memberi kami ghanimah rumah-rumah mereka, dan agar kami hancurkan negeri mereka dengan tangan-tangan kami.”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa. “Kemudian pada pukulan ketiga, ditampakkan kepada saya negeri Ethiopia dan desa-desa sekitarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.”
Lalu beliau berkata ketika itu: “Biarkanlah Ethiopia (Habasyah) selama mereka membiarkan kalian, dan tinggalkanlah Turki selama mereka meninggalkan kalian.”
Sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, terjadilah apa yang diberitakan oleh beliau. Kedua negara adikuasa masa itu berhasil ditaklukkan kaum muslimin, dengan izin Allah.
Jadi, milikilah cita-cita tinggi, dan gantungkan cita-cita itu kepada Allah yang memiliki sifat Ash-Shomad (tempat segala sesuatu bergantung). Sebab, jika Allah yang menghendaki, apapun pasti terjadi, termasuk cita-cita dari para hamba-Nya. Wallahu a’lam.
Rep: Hidcom
Editor: Admin Pendidikan Gratis...
Bernilai artinya punya etos juang tinggi, empati mendalam terhadap penderitaan bangsanya sendiri. Dan, itulah yang dirasakan oleh para pahlawan bangsa terdahulu.
Dan, karen aitu, Albert Einstein (1879 – 1955) lebih mendorong penduduk dunia menjadi manusia yang bernilai. “Cobalah untuk tidak menjadi seorang yang sukses, tapi jadilah seorang yang bernilai.”
Ungkapan ini terasa relevan di zaman sekarang. Faktanya memang tidak sedikit. Misalnya ada anak yang malas belajar tapi lulus juga. Kalau standar sukses adalah lulus, maka buat apa lulus tanpa nilai pribadi yang kuat.
Oleh karena itu, Islam sangat mengutuk orang yang tidak mau berpikir. Ibn Al-Jauzi dalam kitabnya “Shaidul Khatir” menulis, “Barang siapa yang menggunakan pikirannya yang jernih, niscaya ia akan menunjukkan untuk mencari kedudukan ang paling mulia, dan mencegahnya dari sikap ridha terhadap kekurangan dalam segala hal.”
“Maka,” lanjut Ibn Al-Jauzi, “Seorang yang berakal sudah seyogyanya bisa sampai pada puncak dari apa yang dia mampu. Sekiranya masuk akal bagi seorang anak manusia untuk naik ke langit, maka menurutku merupakan kekurangan yang paling jelek kalau dia sudah merasa puas di bumi.
Seandainya kenabian bisa diraih dengan kesungguhan upaya, maka menurutku orang yang bermalas-malasan untuk merahnya berada di jurang kehinaan yang dalam. Hanya saja kalau itu semua memang tidak mungkin, maka seharusnya dia mencari apa yang mungkin (dia lakukan).
Dan, sejarah hidup yang elok menurut para ahli hikmah adalah keluarnya jiwa menuju puncak kesempurnaannya mungkin bisa digapai dalam bidang ilmu dan amal.”
Capaian anak Adam memang tidak bisa sim salabim, sekali jadi, atau sistem kebut semalam. Ada proes yang harus dilalui, ada ‘mahar’ yang mesti dibayar. Sekedar menemukan lampu pijar, Edison harus rela melakukan 1000 kali lebih percobaan. Bahkan Sultan Muhammad Al-Fatih bisa menaklukkan Konstantinopel setelah berabad-abad lamanya cita-cita tinggi keluarga khalifah ingin mewujudkannya.
Oleh karena itu, sebagai apapun diri kita, di usia berapapun, dan dimanapun berada, cita-cita hendaknya terus berkobar-kobar di dalam dada.
Ibn Al-Jauzi memberikan saran yang sangat realistis bagi kita semua. “Sekiranya engkau bisa melewati setiap sosok ulama dan ahli zuhud, maka lakukanlah. Karena mereka adalah manusia (biasa), dan engkau pun juga manusia (biasa). Dan tidaklah seseorang duduk (berpangku tangan) kecuali dikarenakan hina dan rendahnya cita-cita.”
Cita-cita Rasulullah
Dalam riwayat Ahmad dan An-Nasa`i, dari Abu Sukainah radhiyallahu ‘anhu dari salah seorang shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya dengan sanad yang jayyid, disebutkan:
لَمَّاأَمَرَالنَّبيُّصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَبِحَفْرِالْخَنْدَقِعَرَضَتْلَهُمْصَخْرَةٌحَالَتْبَيْنَهُمْوَبَيْنَالْحَفْرِفَقَامَرَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَوَأَخَذَالْمِعْوَلَوَوَضَعَرِدَاءَهُنَاحِيَةَالْخَنْدَقِوَقَالَ: تَمَّتْكَلِمَةُرَبِّكَصِدْقًاوَعَدْلاًلاَمُبَدِّلَلِكَلِمَاتِهِوَهُوَالسَّمِيْعُالْعَلِيْمُ. فَنَدَرَثُلُثُالْحَجَرِوَسَلْمَانُالْفَارِسِيُّقَائِمٌيَنْظُرُفَبَرَقَمَعَضَرْبَةِرَسُوْلِاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَبَرْقَةٌثُمَّضَرَبَالثَّانِيَةَوَقَالَ: تَمَّتْكَلِمَةُرَبِّكَصِدْقًاوَعَدْلاًلاَمُبَدِّلَلِكَلِمَاتِهِوَهُوَالسَّمِيْعُالْعَلِيْمُ. فَنَدَرَالثُّلُثُاْلآخَرُفَبَرَقَتْبَرْقَةٌفَرَآهَاسَلْمَانُثُمَّضَرَبَالثَّالِثَةَوَقَالَ: تَمَّتْكَلِمَةُرَبِّكَصِدْقًاوَعَدْلاًلاَمُبَدِّلَلِكَلِمَاتِهِوَهُوَالسَّمِيْعُالْعَلِيْمُ. فَنَدَرَالثُّلُثُالْبَاقِيوَخَرَجَرَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَفَأَخَذَرِدَاءَهُوَجَلَسَ،قَالَسَلْمَانُ: يَارَسُوْلَاللهِرَأَيْتُكَحِيْنَضَرَبْتَمَاتَضْرِبُ َرْبَةًإِلاَّكَانَتْمَعَهَابَرْقَةٌ. قَالَلَهُرَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَ: يَاسَلْمَانُ،رَأَيْتَذَلِكَ؟فَقَالَ: إِي،وَالَّذِيبَعَثَكَبِالْحَقِّيَارَسُوْلَاللهِ. قَالَ: فَإِنِّيحِيْنَضَرَبْتُالضَّرْبَةَاْلأُولَىرُفِعَتْلِيمَدَائِنُكِسْرَىوَمَاحَوْلَهَاوَمَدَائِنُكَثِيْرَةٌحَتَّىرَأَيْتُهَابِعَيْنَيَّ. قَالَلَهُمَنْحَضَرَهُمِنْأَصْحَابِهِ: يَارَسُوْلَاللهِ،ادْعُاللهَأَنْيَفْتَحَهَاعَلَيْنَاوَيُغَنِّمَنَادِيَارَهُمْوَيُخَرِّبَبِأَيْدِيْنَابِلاَدَهُمْ. فَدَعَارَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَبِذَلِكَ. ثُمَّضَرَبْتُالضَّرْبَةَالثَّانِيَةَفَرُفِعَتْلِيمَدَائِنُقَيْصَرَوَمَاحَوْلَهَاحَتَّىرَأَيْتُهَابِعَيْنَيَّ. قَالُوا: يَارَسُوْلَاللهِادْعُاللهَأَنْيَفْتَحَهَاعَلَيْنَوَيُغَنِّمَنَادِيَارَهُمْوَيُخَرِّبَبِأَيْدِيْنَابِلاَدَهُمْ. فَدَعَارَسُولُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَبِذَلِكَ. ثُمَّضَرَبْتُالثَّالِثَةَفَرُفِعَتْلِيمَدَائِنُالْحَبَشَةِوَمَاحَوْلَهَامِنَالْقُرَىحَتَّىرَأَيْتُهَابِعَيْنَيَّ. قَالَرَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَعِنْدَذَلِكَ: دَعُواالْحَبَشَةَمَاوَدَعُوْكُمْ،وَاتْرُكُواالتُّرْكَمَاتَرَكُوْكُمْ
“Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan penggalian Khandaq, ternyata ada sebongkah batu sangat besar menghalangi penggalian itu. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit mengambil kapak tanah dan meletakkan mantelnya di ujung parit, dan berkata: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Terpecahlah sepertiga batu tersebut. Salman Al-Farisi ketika itu sedang berdiri memandang, dia melihat kilat yang memancar seiring pukulan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau memukul lagi kedua kalinya, dan membaca: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Pecah pula sepertiga batu itu, dan Salman melihat lagi kilat yang memancar ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul batu tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul sekali lagi dan membaca: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Dan untuk ketiga kalinya, batu itupun pecah berantakan. Kemudian beliau mengambil mantelnya dan duduk. Salman berkata: “Wahai Rasulullah, ketika anda memukul batu itu, saya melihat kilat memancar.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Wahai Salman, engkau melihatnya?” Kata Salman: “Demi Dzat yang mengutus anda membawa kebenaran, betul wahai Rasulullah.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika saya memukul itu, ditampakkan kepada saya kota-kota Kisra Persia dan sekitarnya serta sejumlah kota besarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.”
Para shahabat yang hadir ketika itu berkata: “Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar membukakannya untuk kami dan memberi kami ghanimah rumah-rumah mereka, dan agar kami hancurkan negeri mereka dengan tangan-tangan kami.”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa. “Kemudian saya memukul lagi kedua kalinya, dan ditampakkan kepada saya kota-kota Kaisar Romawi dan sekitarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.”
Para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar membukakannya untuk kami dan memberi kami ghanimah rumah-rumah mereka, dan agar kami hancurkan negeri mereka dengan tangan-tangan kami.”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa. “Kemudian pada pukulan ketiga, ditampakkan kepada saya negeri Ethiopia dan desa-desa sekitarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.”
Lalu beliau berkata ketika itu: “Biarkanlah Ethiopia (Habasyah) selama mereka membiarkan kalian, dan tinggalkanlah Turki selama mereka meninggalkan kalian.”
Sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, terjadilah apa yang diberitakan oleh beliau. Kedua negara adikuasa masa itu berhasil ditaklukkan kaum muslimin, dengan izin Allah.
Jadi, milikilah cita-cita tinggi, dan gantungkan cita-cita itu kepada Allah yang memiliki sifat Ash-Shomad (tempat segala sesuatu bergantung). Sebab, jika Allah yang menghendaki, apapun pasti terjadi, termasuk cita-cita dari para hamba-Nya. Wallahu a’lam.
Rep: Hidcom
Editor: Admin Pendidikan Gratis...
Kisah :
Abu Hurairah Radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwasanya suatu ketika Rasulullah saw,
keluar dari rumahnya pada siang hari atau malam hari, ternyata di luar sudah ada Abu Bakar dan Umar.
Rasulullah saw lalu bertanya. "apa yang membuat kalian keluar rumah saat ini?"
"saya lapar wahai Rasulullah, jawab keduanya.
"begitu juga Aku, "sahut Rasulullah" Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sesungguhnya aku keluar rumah disebabkan sesuatu sebagai mana yang kalian rasakan. berangkatlah kalian."
keduanya bersama Rasulullah saw kemudian bangkit dan pergi menemui salah seorang dari suku anshar.
ternyata orang itu tidak ada di rumahnya, ketika istri orang itu melihat Rasulullah saw, ia lalu berseru, "marhaban wa ahlan."
Rasulullah lalu bertanya kepadanya sifulan di mana?"
perempuan itu menjawab, "dia sedang pergi mencari air."
tiba-tiba orang anshar itu datang, di lalu melihat ke arah Rasulullah saw dan kedua sahabatnya. dia lalu berkata, "Alhamdulillah, tidak ada seorangpun yang kedatangan tamu paling mulia dari pada aku hari ini," laki-laki itu lalu pergi untuk mengambil sesuatu dan dia kembali membawa setangkai kurma mentah, kurma setengah matang, dan kurma matang.
laki-laki itu kemudian berkata, "makanlah ini semua, selanjudnya laki-laki
itu kemudian menyodorkan pisau. Rasulullah saw berkata kepadanya, "jangan
engkau menyembelih kambing perahan," laki-laki itu lalu menyembelih kambing untuk mereka
selanjudnya mereka makan kambing, kurma yang ada ditangkai dan minum.
setelah mereka kenyang dan segar, Rasulullah saw berkata kepada Abu Bakar dan Umar.
"Demi Dzat dan jiwaku berada di tangan-Nya sesungguhnya kalian akan ditanya atas nikmat ini pada hari kiamat". rasa lapar telah membuat kalian keluar rumah, kemudian kalian tidak pulang sehingga kalian mendapat nikmat ini.
Rep: Kisah Islami
Editor: Admin Pendidikan Gratis...
Abu Hurairah Radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwasanya suatu ketika Rasulullah saw,
keluar dari rumahnya pada siang hari atau malam hari, ternyata di luar sudah ada Abu Bakar dan Umar.
Rasulullah saw lalu bertanya. "apa yang membuat kalian keluar rumah saat ini?"
"saya lapar wahai Rasulullah, jawab keduanya.
"begitu juga Aku, "sahut Rasulullah" Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sesungguhnya aku keluar rumah disebabkan sesuatu sebagai mana yang kalian rasakan. berangkatlah kalian."
keduanya bersama Rasulullah saw kemudian bangkit dan pergi menemui salah seorang dari suku anshar.
ternyata orang itu tidak ada di rumahnya, ketika istri orang itu melihat Rasulullah saw, ia lalu berseru, "marhaban wa ahlan."
Rasulullah lalu bertanya kepadanya sifulan di mana?"
perempuan itu menjawab, "dia sedang pergi mencari air."
tiba-tiba orang anshar itu datang, di lalu melihat ke arah Rasulullah saw dan kedua sahabatnya. dia lalu berkata, "Alhamdulillah, tidak ada seorangpun yang kedatangan tamu paling mulia dari pada aku hari ini," laki-laki itu lalu pergi untuk mengambil sesuatu dan dia kembali membawa setangkai kurma mentah, kurma setengah matang, dan kurma matang.
laki-laki itu kemudian berkata, "makanlah ini semua, selanjudnya laki-laki
itu kemudian menyodorkan pisau. Rasulullah saw berkata kepadanya, "jangan
engkau menyembelih kambing perahan," laki-laki itu lalu menyembelih kambing untuk mereka
selanjudnya mereka makan kambing, kurma yang ada ditangkai dan minum.
setelah mereka kenyang dan segar, Rasulullah saw berkata kepada Abu Bakar dan Umar.
"Demi Dzat dan jiwaku berada di tangan-Nya sesungguhnya kalian akan ditanya atas nikmat ini pada hari kiamat". rasa lapar telah membuat kalian keluar rumah, kemudian kalian tidak pulang sehingga kalian mendapat nikmat ini.
Rep: Kisah Islami
Editor: Admin Pendidikan Gratis...
Barang siapa yang bangun di pagi hari dan hanya dunia yang difikirkanya seolah-olah dia tidak melihat hak ALLAH
dalam dirinya maka ALLAH akan menanamkan empat macam penyakit padanya
- Kebingungan yang tiada putus - putusnya
- Kesibukan yang tidak pernah jelas akhirnya
- Kebutuhan yang tidak pernah merasa terpenuhi
- Khayalan yang tidak berujung wujudnya
Benarkah Islam melarang memilih pemimpin non-muslim? Apa benar surat Al-Maidah ayat 51 melarang demikian?
Allah Ta’ala berfirman,
Allah Ta’ala berfirman,
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى
أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ
فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil
orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebahagian mereka
adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu
mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk
golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang lalim.” (QS. Al-Maidah: 51)
Bulan Ramadhan sebentar lagi tiba, kesempatan berlomba-lomba dalam kebaikan terbuka lebar di depan mata dengan pahala berlipat ganda dari bulan-bulan biasanya. Menolong anak jalanan merupakan amalan termudah yang bisa kita lakukan, berdasarkan data Kemensos, saat ini terdapat 230 ribu anak jalanan di Indonesia dan tersebar di seluruh kota besar di Indonesia. Namun, karena minimnya pengetahuan masih banyak diantara kita yang terjebak dalam cara beramal yang tidak tepat salah satunya kita beranggapan memberikan uang receh kepada anak jalanan akan membantu mereka dari masalah hidupnya yang terlantar. Padahal, penelantaran anak adalah sebuah sistem, dan memberi anak jalanan uang saja nggak akan cukup menghancurkan sistem tersebut. Salah-salah, uang tersebut malah akan mereka ‘setor’ ke orang dewasa yang berniat mengeksploitasi mereka.
Sebenarnya yang mereka butuhkan adalah perlindungan, pengasuhan, pendidikan serta motivasi untuk keluar dari kerasnya kehidupan di jalan. Beberap yang dapat kita lakukan
1. Menjadi Relawan
Menjadi relawan, disini kita bisa terjun langsung kelapangan membantu mereka. Berjumpa dengan mereka, mendengar keluh kesah dan kesulitan yang mereka alami. Kita pun berkesempatan untuk berbagi ilmu yang kita miliki dengan mereka. Tidak usah minder, kamu tidak mesti mengajar layaknya seorang guru sekolah, tapi kita bisa menjadi teman bermain dan juga mendampingi mereka dalam tiap kegiatan. Kegiatan yang kita lakukan pun bisa beragam: mulai dari belajar, membaca, menulis, menggambar dan sebagainya. Kita bisa melihat perbedaan sudut pandang antara kehidupan kita dan mereka dalam melihat dunia, paradigma mereka dalam mengarungi bahtera kehidupan ini.
2. Berbuka Bersama Mereka
Mereka pasti amat senang jika ada orang yang peduli hingga menyiapkan santap buka bagi mereka sekaligus makan bersama mereka. Setelah acara makan-makan bisa diisi kegiatan seperti sholat bersama, tadarrusan, kuis keilmuan. Yang terpenting adalah menghargai pilihan dan kesukaan mereka: tanyakan langsung apa yang ingin mereka lakukan denganmu bersama-sama. Kita juga bisa belajar dari kemampuan yang mereka miliki!
3. Awasi Kinerja Pemerintah
Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait via lintas.me
Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan tanggung jawab untuk memelihara anak jalanan pada negara. Ini bukan berarti kita bisa lepas sama sekali. Justru, sebagai seorang warga, kita adalah bagian dari negara itu sendiri. Kita gak boleh lepas tangan. Kita punya peran khusus untuk mengawasi kinerja pemerintah (dan lembaga terkait) dalam ‘memelihara’ anak jalanan. Apakah semua usaha dilakukan dengan baik, atau malah eksistensi anak jalanan benar-benar “dipelihara” hingga semakin banyak jumlahnya?
Disini kita harus jeli dan vokal dalam mengawasi kinerja lembaga-lembaga seperti, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenpppa), Kementerian Sosial melalui Program Kesejahteraan Sosial Anak, serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Tiga lembaga ini mewakili negara dalam hal perlindungan anak jalanan. Selain itu, kita juga bisa mengawasi LSM yang juga punya kepedulian untuk anak jalan. Contohnya, Komnas Perlindungan Anak (harap diingat bahwa ini lembaga yang berbeda dari KPAI). Selain di pusat, kita harusnya lebih gencar dalam pengawasan kinerja pemerintah provinsi dan kota kamu tinggal. Dengan adanya otonomi daerah tiap kota berhak mengeluarkan Perda-nya masing-masing. Untuk itu, silakan cek apakah kota kita sudah memiliki Perda yang melindungi anak jalanan atau belum? Jika belum, segera upayakan melalui wakil kamu di DPRD setempat, atau luncurkan petisi online. Jika provinsi/kota kita sudah punya Perda mengenai anak jalanan, pantau implementasi-nya.
4. Salurkan Donasi
Jika kita belum punya kesempatan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan di atas, kita masih bisa ikut membantu mereka dengan berdonasi. Ingat ya, berdonasi tidak sama dengan memberi uang di tengah jalan. Donasikan dana kamu melalui badan-badan resmi dan sudah dipercaya dalam menyalurkan bantuan sosial seperti Rumah Zakat, Bazarnas, masjid dan lembaga sosial lainnya di kota kamu. Pastinya, kamu juga bisa menyumbangkan donasi ke yayasan yang langsung menangani masalah anak jalanan. Jadi ada banyak cara meringakan beban mereka tanpa harus memberikan sisa uang atau recehan yang bisa merusak perkembangan mereka kearah yang lebih baik, utamanya tekad untuk berusaha menjadi cerdas dengan usaha mandiri.
Sebenarnya yang mereka butuhkan adalah perlindungan, pengasuhan, pendidikan serta motivasi untuk keluar dari kerasnya kehidupan di jalan. Beberap yang dapat kita lakukan
1. Menjadi Relawan
Menjadi relawan, disini kita bisa terjun langsung kelapangan membantu mereka. Berjumpa dengan mereka, mendengar keluh kesah dan kesulitan yang mereka alami. Kita pun berkesempatan untuk berbagi ilmu yang kita miliki dengan mereka. Tidak usah minder, kamu tidak mesti mengajar layaknya seorang guru sekolah, tapi kita bisa menjadi teman bermain dan juga mendampingi mereka dalam tiap kegiatan. Kegiatan yang kita lakukan pun bisa beragam: mulai dari belajar, membaca, menulis, menggambar dan sebagainya. Kita bisa melihat perbedaan sudut pandang antara kehidupan kita dan mereka dalam melihat dunia, paradigma mereka dalam mengarungi bahtera kehidupan ini.
2. Berbuka Bersama Mereka
Mereka pasti amat senang jika ada orang yang peduli hingga menyiapkan santap buka bagi mereka sekaligus makan bersama mereka. Setelah acara makan-makan bisa diisi kegiatan seperti sholat bersama, tadarrusan, kuis keilmuan. Yang terpenting adalah menghargai pilihan dan kesukaan mereka: tanyakan langsung apa yang ingin mereka lakukan denganmu bersama-sama. Kita juga bisa belajar dari kemampuan yang mereka miliki!
3. Awasi Kinerja Pemerintah
Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait via lintas.me
Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan tanggung jawab untuk memelihara anak jalanan pada negara. Ini bukan berarti kita bisa lepas sama sekali. Justru, sebagai seorang warga, kita adalah bagian dari negara itu sendiri. Kita gak boleh lepas tangan. Kita punya peran khusus untuk mengawasi kinerja pemerintah (dan lembaga terkait) dalam ‘memelihara’ anak jalanan. Apakah semua usaha dilakukan dengan baik, atau malah eksistensi anak jalanan benar-benar “dipelihara” hingga semakin banyak jumlahnya?
Disini kita harus jeli dan vokal dalam mengawasi kinerja lembaga-lembaga seperti, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenpppa), Kementerian Sosial melalui Program Kesejahteraan Sosial Anak, serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Tiga lembaga ini mewakili negara dalam hal perlindungan anak jalanan. Selain itu, kita juga bisa mengawasi LSM yang juga punya kepedulian untuk anak jalan. Contohnya, Komnas Perlindungan Anak (harap diingat bahwa ini lembaga yang berbeda dari KPAI). Selain di pusat, kita harusnya lebih gencar dalam pengawasan kinerja pemerintah provinsi dan kota kamu tinggal. Dengan adanya otonomi daerah tiap kota berhak mengeluarkan Perda-nya masing-masing. Untuk itu, silakan cek apakah kota kita sudah memiliki Perda yang melindungi anak jalanan atau belum? Jika belum, segera upayakan melalui wakil kamu di DPRD setempat, atau luncurkan petisi online. Jika provinsi/kota kita sudah punya Perda mengenai anak jalanan, pantau implementasi-nya.
4. Salurkan Donasi
Jika kita belum punya kesempatan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan di atas, kita masih bisa ikut membantu mereka dengan berdonasi. Ingat ya, berdonasi tidak sama dengan memberi uang di tengah jalan. Donasikan dana kamu melalui badan-badan resmi dan sudah dipercaya dalam menyalurkan bantuan sosial seperti Rumah Zakat, Bazarnas, masjid dan lembaga sosial lainnya di kota kamu. Pastinya, kamu juga bisa menyumbangkan donasi ke yayasan yang langsung menangani masalah anak jalanan. Jadi ada banyak cara meringakan beban mereka tanpa harus memberikan sisa uang atau recehan yang bisa merusak perkembangan mereka kearah yang lebih baik, utamanya tekad untuk berusaha menjadi cerdas dengan usaha mandiri.
Kenapa harus sombong? Apa sebenarnya yang harus disombongkan? Meski cerdas dan berilmu tapi tidak sebanding kecerdasan dan keilmuannya dibandingkan Nabi Muhammad SAW. Mungkin dia tampan dan gagah tapi tidak seberapa dibandingkan Nabi Yusuf. Kalaulah kaya tentu tidak sebanding dengan kayanya Nabi Sulaiman. Terus mengapa harus malas beribadah, dan beramal sholeh?
Ada kisah seorang pengajar di Surabaya, dia masih muda, gagah, cerdas dan kaya. Kehadirannya selalu ditunggu, keberadaannya membuat semangat orang lain dan menjadi idola bagi kaum hawa. Namun semuanya justru mulai menumbuhkan rasa lebih baik dibandingkan orang lain dan lama kelamaan menjadi sombong.
Sehingga mulai sering terlontar dari ucapannya bahwa saya gagah dan sehat karena terjaga menu makanannya yang bergizi, teratur waktu tidurnya dan rajin berolah raga. Dia bisa cerdas karena ketekunannya dalam belajar dan diskusi untuk mengasah kemampuannya.
Adapaun kekayaan yang dimiliki karena sangat hemat, tidak boros dan memplaning segala keuangannya. Ucapannya sudah menjalar terhadap sikap dan perbuatan yang sombong sehingga kepada Tuhannya saja tidak ingat.
Kemudian Allah menguji dengan sebuah penyakit. Penyakit tersebut sebenarnya tidak keren (seperti kangker, tumor, jantung) untuk diceritakan, apalagi untuk orang sekelas dia. Penyakit itu sepele yaitu bisul.
Namun letak bisul ini yang sangat strategis sehingga menjadikan penyakit ini menjadi tidak sepele lagi. Posisi tumbuhnya bisulnya di dekat lubang anus (maaf, tempat keluarnya BAB).
Pada awalnya tidak dirasa hanya ada benjolan saja, hari berikutnya mulai sakit jika hendak BAB. Hari ketiga mulai terasa “Cenut-cenut”, jangankan BAB, buang angin saja mulai terasa sakit.
Hari itu juga mulai terpikir untuk tidak lagi makan, karena makanan mengakibatkan dia harus BAB atau buang angin. Padahal dia tadi mengaku cerdas, bagaimana orang bisa bertahan hidup kalau tidak ada makanan yang terkonsumsi oleh tubuh.
Tiga hari pertama dia menyembunyikan penyakitnya karena malu apalagi harus pergi ke dokter. Namun ketika hari keempat dan tidak bisa bergerak ke mana-mana, teman-temannya mengangkat ke RS. Di sanalah teman-temannya mulai mengetahui penyakitnya.
Menurut dokter, penyakit ini perlu operasi, sebenarnya operasi ringan saja tapi tidak bisa langsung hari ini,“menunggu matangnya” kata dokter. “Mungkin juga karena bau anusnya juga tidak tahan dokternya” kata temannya.
Operasi kecil dan sederhana tapi ternyata memerlukan waktu yang sangat lama dan berhari-hari. Setelah dioperasi ternyata, dia mengalami depresi atau turun mental sehingga harus dirawat di bagian syaraf dan rajin ke psikister.
Akhirnya tubuh gagah yang dibanggakan menjadi menjadi kurus kering, otak cerdas yang disebut-sebut menjadi sedikit eror, harta yang dikumpulkan habis untuk operasi dan biaya perawatannya. Kesombongan bisa runtuh hanya dengan penyakit bisul. Mari berbagi untuk saudara dengan tidak menyombongkan apa yang kita miliki karena semua berakhir.
Ada kisah seorang pengajar di Surabaya, dia masih muda, gagah, cerdas dan kaya. Kehadirannya selalu ditunggu, keberadaannya membuat semangat orang lain dan menjadi idola bagi kaum hawa. Namun semuanya justru mulai menumbuhkan rasa lebih baik dibandingkan orang lain dan lama kelamaan menjadi sombong.
Sehingga mulai sering terlontar dari ucapannya bahwa saya gagah dan sehat karena terjaga menu makanannya yang bergizi, teratur waktu tidurnya dan rajin berolah raga. Dia bisa cerdas karena ketekunannya dalam belajar dan diskusi untuk mengasah kemampuannya.
Adapaun kekayaan yang dimiliki karena sangat hemat, tidak boros dan memplaning segala keuangannya. Ucapannya sudah menjalar terhadap sikap dan perbuatan yang sombong sehingga kepada Tuhannya saja tidak ingat.
Kemudian Allah menguji dengan sebuah penyakit. Penyakit tersebut sebenarnya tidak keren (seperti kangker, tumor, jantung) untuk diceritakan, apalagi untuk orang sekelas dia. Penyakit itu sepele yaitu bisul.
Namun letak bisul ini yang sangat strategis sehingga menjadikan penyakit ini menjadi tidak sepele lagi. Posisi tumbuhnya bisulnya di dekat lubang anus (maaf, tempat keluarnya BAB).
Pada awalnya tidak dirasa hanya ada benjolan saja, hari berikutnya mulai sakit jika hendak BAB. Hari ketiga mulai terasa “Cenut-cenut”, jangankan BAB, buang angin saja mulai terasa sakit.
Hari itu juga mulai terpikir untuk tidak lagi makan, karena makanan mengakibatkan dia harus BAB atau buang angin. Padahal dia tadi mengaku cerdas, bagaimana orang bisa bertahan hidup kalau tidak ada makanan yang terkonsumsi oleh tubuh.
Tiga hari pertama dia menyembunyikan penyakitnya karena malu apalagi harus pergi ke dokter. Namun ketika hari keempat dan tidak bisa bergerak ke mana-mana, teman-temannya mengangkat ke RS. Di sanalah teman-temannya mulai mengetahui penyakitnya.
Menurut dokter, penyakit ini perlu operasi, sebenarnya operasi ringan saja tapi tidak bisa langsung hari ini,“menunggu matangnya” kata dokter. “Mungkin juga karena bau anusnya juga tidak tahan dokternya” kata temannya.
Operasi kecil dan sederhana tapi ternyata memerlukan waktu yang sangat lama dan berhari-hari. Setelah dioperasi ternyata, dia mengalami depresi atau turun mental sehingga harus dirawat di bagian syaraf dan rajin ke psikister.
Akhirnya tubuh gagah yang dibanggakan menjadi menjadi kurus kering, otak cerdas yang disebut-sebut menjadi sedikit eror, harta yang dikumpulkan habis untuk operasi dan biaya perawatannya. Kesombongan bisa runtuh hanya dengan penyakit bisul. Mari berbagi untuk saudara dengan tidak menyombongkan apa yang kita miliki karena semua berakhir.
Ikhlas adalah tingkatan amal yang tertinggi dan pasti diterima oleh Allah swt. Meskipun beramal ibadah seribu tahun, berinfaq milyaran rupiah, berbuat baik dengan jutaan orang tapi ada sedikit kurang ikhlas maka amal tersebut menjadi debu yang berterbangan artinya sia-sia.
Manusia yang ikhlas adalah manusia pilihan dan sedikit jumlahnya. Karena tidak mudah memiliki rasa dan jiwa ikhlas itu. Syetan dan nafsu dalam diri selalu mengganggu untuk menggerogoti amal-amal kebaikan untuk tidak ikhlas. Ikhlas adalah keharusan dari sebuah amal. Sebab Allah tidak menerima amal yang ada kepentingan lain, inters pribadi atau maksud-maksud tertentu. Kepentingan, inters dan maksud-maksud tertentu menjadikan amal tidak bernilai di hadapan Allah SWT.
Realita dalam kehidupan di dunia ini memang tidak mudah untuk ikhlas. Contoh untuk beribadah shalat wajib maupun sunnah, ketika berangkat sebelum adzan berkumandang dan belum banyak jamaah lain yang datang sehingga bisa duduk di shaf depan maka seringkali ada bisikan “bahwa diri ini shaleh dan hebat.” Padahal sudah paham bahwa shalat ini bukan untuk manusia tapi beribadah karena Allah SWT.
Ketika berdoa terkesan serius dan khusyu’ tapi sebenarnya bukan semata-mata yakin kepada Allah swt tapi ada kepentingan agar permohonannya dipenuhi. Sehingga kalau tidak ada kepentingan maka juga melupakan doa atau tidak serius untuk bermunajat kepada Allah swt.
Kemudian saat beramal sholeh dan bersungguh-sungguh mengerjakannya tapi tidak ada apresiasi bahkan ada komentar negatif. Maka hati ini seringkali belum bisa menerimanya dengan lapang. Terkadang malah berfikir negatif dengan menyebut tidak adil terhadap orang tersebut (orang yang berkomentar). Padahal kalau ikhlas tentu mendapatkan kritik dan celaan adalah masukan berharga untuk meningkatkan kualitas amal kita.
Sebaliknya ada rasa puas dan lega ketika ada pujian dan sanjungan terhadap amal sholeh yang telah kita kerjakan. Ada yang parah dengan menyengaja untuk dilihat dan dipuji orang banyak. Ini tentu rasa-rasa yang menunjukkan kualitas jiwa beramal yang belum ikhlas.
Ikhlas mudah diucapkan, dijelaskan, diceramahkan dan ditulis untuk disampaikan kepada orang lain. Pendefinisiannya juga mudah dipahami. Tapi beratnya untuk mencapai derajat taqwa yang hakiki dan murni karena Allah SWT.
Jika bukan karena Allah dan bantuan Allah rasanya tidak mungkin jiwa ini bisa ikhlas. Kalau hanya mengandalkan ilmu, umur, pengalaman maka sulit beramal dengan ikhlas.
Ada rasa kegetiran juga membayangkan kesia-siaan amal ibadah dan amal sholeh yang telah susah payah dilakukan selama ini. Tiba-tiba tertolak dan tidak diterima sedikitpun oleh Allah. Semoga kekhawatiran ini mengantar jiwa untuk terus berusaha dan berdoa untuk bisa menjadi orang-orang ikhlas dengan terus berbagi kepada saudara-saudara kita.
Manusia yang ikhlas adalah manusia pilihan dan sedikit jumlahnya. Karena tidak mudah memiliki rasa dan jiwa ikhlas itu. Syetan dan nafsu dalam diri selalu mengganggu untuk menggerogoti amal-amal kebaikan untuk tidak ikhlas. Ikhlas adalah keharusan dari sebuah amal. Sebab Allah tidak menerima amal yang ada kepentingan lain, inters pribadi atau maksud-maksud tertentu. Kepentingan, inters dan maksud-maksud tertentu menjadikan amal tidak bernilai di hadapan Allah SWT.
Realita dalam kehidupan di dunia ini memang tidak mudah untuk ikhlas. Contoh untuk beribadah shalat wajib maupun sunnah, ketika berangkat sebelum adzan berkumandang dan belum banyak jamaah lain yang datang sehingga bisa duduk di shaf depan maka seringkali ada bisikan “bahwa diri ini shaleh dan hebat.” Padahal sudah paham bahwa shalat ini bukan untuk manusia tapi beribadah karena Allah SWT.
Ketika berdoa terkesan serius dan khusyu’ tapi sebenarnya bukan semata-mata yakin kepada Allah swt tapi ada kepentingan agar permohonannya dipenuhi. Sehingga kalau tidak ada kepentingan maka juga melupakan doa atau tidak serius untuk bermunajat kepada Allah swt.
Kemudian saat beramal sholeh dan bersungguh-sungguh mengerjakannya tapi tidak ada apresiasi bahkan ada komentar negatif. Maka hati ini seringkali belum bisa menerimanya dengan lapang. Terkadang malah berfikir negatif dengan menyebut tidak adil terhadap orang tersebut (orang yang berkomentar). Padahal kalau ikhlas tentu mendapatkan kritik dan celaan adalah masukan berharga untuk meningkatkan kualitas amal kita.
Sebaliknya ada rasa puas dan lega ketika ada pujian dan sanjungan terhadap amal sholeh yang telah kita kerjakan. Ada yang parah dengan menyengaja untuk dilihat dan dipuji orang banyak. Ini tentu rasa-rasa yang menunjukkan kualitas jiwa beramal yang belum ikhlas.
Ikhlas mudah diucapkan, dijelaskan, diceramahkan dan ditulis untuk disampaikan kepada orang lain. Pendefinisiannya juga mudah dipahami. Tapi beratnya untuk mencapai derajat taqwa yang hakiki dan murni karena Allah SWT.
Jika bukan karena Allah dan bantuan Allah rasanya tidak mungkin jiwa ini bisa ikhlas. Kalau hanya mengandalkan ilmu, umur, pengalaman maka sulit beramal dengan ikhlas.
Ada rasa kegetiran juga membayangkan kesia-siaan amal ibadah dan amal sholeh yang telah susah payah dilakukan selama ini. Tiba-tiba tertolak dan tidak diterima sedikitpun oleh Allah. Semoga kekhawatiran ini mengantar jiwa untuk terus berusaha dan berdoa untuk bisa menjadi orang-orang ikhlas dengan terus berbagi kepada saudara-saudara kita.
Tag :// Buka Hati dan Pikiran,
Tag :// Nasehat Orang Mulia
Pernyataan judul di atas seolah mengada-ada tapi kenyataan itu benar-benar ada di perasaan, pikiran dan hati orang-orang miskin yang sedang sakit atau keluarganya sakit. Meskipun mereka tidak ucapkan dan tuliskan pernyataan di atas tapi terbaca dari raut mukanya yang sedih dan panik.
Jika ada otoritas bagi orang miskin untuk bisa memilih menerima atau menolak sakit maka pasti mereka memilih untuk sehat saja. Di antara mereka ada yang berdoa, “Ya Allah kami rela hidup miskin tapi yang penting tidak sakit”. Ada juga yang berkata, “Ya Allah, kalau semua manusia harus diuji kesabaran maka cukuplah kami diberi uji kesabaran dengan kemiskinan dan tidak dengan sakit”
Sebagian ada yang berharap, “Ya Allah kalau sakit itu suatu keharusan yang dialami semua manusia, maka berilah sakit yang ringan-ringan saja dan tidak lama-lama kepada kami yang miskin seperti demam, flue atau panu saja.”
Itulah gambaran harapan mereka, namun kenyataan di hampir semua rumah sakit maka yang banyak pasiennya adalah orang-orang miskin. Bukan Allah tidak memenuhi harapan mereka tapi ada sunnatullah yang lain juga berlaku. Orang miskin memang rentang sakit karena makanannya dari kuantitas dan kualitas tidak memenuhi standart kesehatan, bisa makan setiap hari sudah beruntung sehingga gizi bukan prioritas yang penting ada yang mengganjal di perut.
Pola hidupnya juga tidak teratur jam tidur dan istirahatnya karena habis untuk mengais rezeki, apalagi untuk olah raga karena mereka merasa setiap hari sudah keluar keringat dan air mata. Lingkungan hidupnya kumuh berteman dengan kuman-kuman, bakteri dan lalat. Itu semuanya adalah rawan mengundang penyakit. Inilah keanehan yang menyertai kemiskinan mereka, tidak mau sakit tapi akrab dengan sumber-sumber penyakit termasuk asyik dengan dunia rokok.
Sehingga saat mereka harus pergi kerumah sakit maka beberapa beban yang harus mereka tanggung;
Pertama penderitaan penyakitnya yang tentu menyiksa sakitnya,
Kedua adalah beban biaya yang sudah terbayang-bayang tapi tidak terbayang dari mana mencari biaya tersebut. Rumah sakit hari ini indentik dengan biaya mahal karena mungkin menjadi dokter dan perawat perlu biaya mahal, perlengkapan dan obat-obatan juga mahal.
Ketiga, ada jaminan kesehatan dari pemerintah untuk masyarakat tapi belum merata. Bagi orang miskin berurusan dengan kantor dan surat-surat membuat panas dingin perasaan mereka. Karena kantor itu tempat asing yang menakutkan apalagi petugasnya benar-benar bersikap menakut-nakuti. Surat adalah hal yang membuat alergi, bukan mereka buta huruf tapi bahasa formalitas sulit untuk dipahami orang-orang miskin.
Ketiga beban tersebut semakin membuat menderita orang miskin yang sakit. Maka orang miskin di larang untuk sakit kalau tidak mau semakin miskin dan sakit. Namun di dunia ini pasti masih ada orang-orang kaya yang baik hati dan peduli dengan derita orang-orang miskin. Semoga di antara orang yang baik itu adalah anda yang mau membaca tulisan ini.
Jika ada otoritas bagi orang miskin untuk bisa memilih menerima atau menolak sakit maka pasti mereka memilih untuk sehat saja. Di antara mereka ada yang berdoa, “Ya Allah kami rela hidup miskin tapi yang penting tidak sakit”. Ada juga yang berkata, “Ya Allah, kalau semua manusia harus diuji kesabaran maka cukuplah kami diberi uji kesabaran dengan kemiskinan dan tidak dengan sakit”
Sebagian ada yang berharap, “Ya Allah kalau sakit itu suatu keharusan yang dialami semua manusia, maka berilah sakit yang ringan-ringan saja dan tidak lama-lama kepada kami yang miskin seperti demam, flue atau panu saja.”
Itulah gambaran harapan mereka, namun kenyataan di hampir semua rumah sakit maka yang banyak pasiennya adalah orang-orang miskin. Bukan Allah tidak memenuhi harapan mereka tapi ada sunnatullah yang lain juga berlaku. Orang miskin memang rentang sakit karena makanannya dari kuantitas dan kualitas tidak memenuhi standart kesehatan, bisa makan setiap hari sudah beruntung sehingga gizi bukan prioritas yang penting ada yang mengganjal di perut.
Pola hidupnya juga tidak teratur jam tidur dan istirahatnya karena habis untuk mengais rezeki, apalagi untuk olah raga karena mereka merasa setiap hari sudah keluar keringat dan air mata. Lingkungan hidupnya kumuh berteman dengan kuman-kuman, bakteri dan lalat. Itu semuanya adalah rawan mengundang penyakit. Inilah keanehan yang menyertai kemiskinan mereka, tidak mau sakit tapi akrab dengan sumber-sumber penyakit termasuk asyik dengan dunia rokok.
Sehingga saat mereka harus pergi kerumah sakit maka beberapa beban yang harus mereka tanggung;
Pertama penderitaan penyakitnya yang tentu menyiksa sakitnya,
Kedua adalah beban biaya yang sudah terbayang-bayang tapi tidak terbayang dari mana mencari biaya tersebut. Rumah sakit hari ini indentik dengan biaya mahal karena mungkin menjadi dokter dan perawat perlu biaya mahal, perlengkapan dan obat-obatan juga mahal.
Ketiga, ada jaminan kesehatan dari pemerintah untuk masyarakat tapi belum merata. Bagi orang miskin berurusan dengan kantor dan surat-surat membuat panas dingin perasaan mereka. Karena kantor itu tempat asing yang menakutkan apalagi petugasnya benar-benar bersikap menakut-nakuti. Surat adalah hal yang membuat alergi, bukan mereka buta huruf tapi bahasa formalitas sulit untuk dipahami orang-orang miskin.
Ketiga beban tersebut semakin membuat menderita orang miskin yang sakit. Maka orang miskin di larang untuk sakit kalau tidak mau semakin miskin dan sakit. Namun di dunia ini pasti masih ada orang-orang kaya yang baik hati dan peduli dengan derita orang-orang miskin. Semoga di antara orang yang baik itu adalah anda yang mau membaca tulisan ini.
Tag :// Bina Hidup Sehat,
Tag :// Buka Hati dan Pikiran,
Tag :// Cerita Menggugah,
Tag :// Kisah Nyata Inspiratif
Pada umumnya orang sakit itu sensitive karena sedang menahan rasa sakitnya. Sehingga sedikit ada kesalahan dalam pelayanan maka bisa menangis bagi yang tidak berdaya atau sekalian marah bagi yang masih punya daya.
Hal itu bisa dimaklumi karena orang sakit itu memerlukan perhatian lebih dan pelayanan khusus. Jadi karakter untuk minta diperhatikan dan dilayani bukan hanya dimiliki pejabat tapi juga orang-orang yang sedang sakit.
Ini rasa ego yang manusiawi untuk mendapatkan pengakuan sebagai orang yang layak memerlukan simpati dan empati. Mereka bukan mau manja atau cengeng tapi memang sedang tidak berdaya untuk mendapatkan bantuan orang-orang sekitarnya.
Maka jangan sekali-kali bercanda yang tidak perlu apalagi mengolok dan meremehkan orang yang sedang sakit. Kondisi normal atau sehat saja, tidak semua orang bisa diajak canda, diolok atau diremehkan. Apalagi orang yang sedang sakit, mereka bisa bertambah sakit fisik dan hatinya.
Ada beberapa karakter orang sakit di rumah sakit. Pertama ketakutan, artinya mereka memiliki bayang-bayang yang menakutkan, entah karena mau sekedar disuntik, dioperasi dan ada takut yang sangat yaitu kematian. Ketakutan pertama biasanya relatif ringan untuk menyadarkannya karena mereka sebenarnya sadar tentang sakitnya dan memang mau sembuh dari sakitnya tapi takut untuk menjalani proses penyembuhan.
Adapun ketakutan kedua karena kematian, biasanya daya ilusinya tinggi atau jauh. Sebentar-bentar mimpi bertemu dengan saudara atau teman yang sudah lama meninggal yang seolah memanggil-manggilnya. Atau terkadang melihat bayangan putih di depan pintu atau di palffon kamar rumah sakit sambil melambaikan tangannya.
Apalagi satu kamar atau tetangga ranjangnya sudah meninggal duluan, maka ada pertanyaan yang menyelinap dalam pikirannya,“Apakah malaikat maut akan meneruskan giliran mencabut nyawa dia atau loncat ke pasien kamar sebelah.“ Contoh lain ada saudaranya yang menjenguk sekedar cerita kalau baju kesayangannya hilang kancingnya satu. Kancing hilang dimaknai kematian dirinya. Apalagi kalau dengar sirene ambulance, tambah mengerikan.
Jenis orang ini sangat sensitif terhadap semua yang dirasa, didengar, terlintas dalam pikiran selalu dimaknai dengan tanda-tanda kematiannya sudah dekat dan anehnya tidak mati-mati juga. Sehingga tambah tersiksa dengan bayangan-bayangan yang menakutkan dirinya sendiri, biasanya kalau mati bukan karena penyakitnya tapi sebab rasa takutnya.
Kedua, tidak sabar dengan sakitnya. Orang yang sakit jenis ini mau cepat-cepat sembuh karena tidak tahan lama-lama menjadi penghuni kamar rumah sakit. Misalnya, sudah ada jadwal mau operasi dan tiba-tiba ada penundaan jadwal operasi, padahal sudah puasa dan capek pinggang karena baring terus di ranjang pembaringan. Maka spontan marah dan prasangka jelek bahwa ada “permainan” perawat atau manejemen. Padahal memang antre dan belum gilirannya.
Ada yang menunjukkan ketidaksabarannya dengan sering menangis keras, biasanya pasien kecil. Kasihan sekali melihat anak kecil yang harus dipasang selang infuse atau pakai oksigen hidungnya. Dia belum bisa mengkomunikasikan rasa sakitnya dengan bicara tapi dengan menangis, terus menangis dan meronta-ronta. Bagi yang dekat atau mendengarnya akan terasa haru dan sedih.
Kalau pasien remaja dengan terus mengerang kesakitan,”aduh....aduh….aduh..., sakitnya....sakitnya. ini biasanya yang manja, tidak sebanding dengan gaya mejengnya saat sehat yang seolah-olah paling gagah dan keren. Remaja jenis ini cengeng dan memerlukan kesabaran ekstra untuk menungguinya karena agak menjengkelkan.
Kalau pasien tua biasanya dengan mengeluh sakit ini, itu dan tidak mau ditinggal jauh oleh penunggunya. Sering ngomel-ngomel kalau ada yang tidak pas bantalnya, posisi baringnya atau makanannya. Sisi lain tidak berdaya tapi sisi lain masih mau menunjukkan otoritasnya sebagai orang tua jadi agak menjengkelkan mungkin.
Merawat orang tua atau lansia sakit itu seperti merawat bayi lagi. Tapi ini bayi yang sudah tua jadi lebih sulit. Mau digendong-gendong berat, dinasehati jadi tersinggung dan dimarahi tapi sudah tua, mau dibiarkan nanti jadi durhaka.
Jenis pasien ketiga adalah tenang. Mereka mengisi waktu-waktu baringnya dengan banyak berdzikir dan berdoa. Mereka sudah sangat paham bahwa sakit dan sehat itu dari Allah adapun rumah sakit dengan dokter, perawat dan obat-obatan itu hanya perantara saja. Menjaga pasien seperti ini relative lebih ringan dan sedikit santai karena tidak rewel dan tidak mudah mengeluh.
Pembagian ini hanya mungkin tidak mewakili semuanya tapi secara garis besar saja. Sama-sama sakit tapi berbeda menyikapi dan berbeda juga endingnya. Sehingga keimanan kepada taqdir Allah harus senantiasa ditingkatkan.
Al-amin secara bahasa berarti yang setia, jujur, dan terpercaya. Seorang pemimpin yang mempunyai sifat ini ketika menerima tugas akan menjalankannya dengan jujur dan penuh dedikasi. Sifat seperti ini muncul pada orang yang selalu melihat tugas dan jabatan itu sebagai amanah dari Allah. Ia meyakini amanah itu akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat.
Setiap manusia terlahir sebagai pemimpin. Rasulullah bersabda, ''Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin itu akan ditanya tentang yang dipimpinnya.'' (HR Bukhari dan Muslim)
Kita tentu kenal Umar bin Khathab. Ia adalah salah seorang khalifah yang sangat terkenal dengan kejujuran dan kehebatannya dalam memimpin. Kehidupannya sangat sederhana. Seorang utusan dari Persia bahkan sempat kesulitan mengenalinya. Waktu itu ia mendapati Umar RA tidur di bawah pohon beralaskan tanah tanpa pengawalan. Tak tampak darinya kemewahan apalagi atribut seorang raja dan pemimpin dunia.
Tak jauh beda dengan cucunya, Umar bin Abdul Aziz. Khalifah yang memerintah pada era Daulah Umawiyyah ini terkenal sangat jujur. Ia sangat takut menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadinya. Ia rela berbincang dengan putranya dalam keadaan gelap gulita daripada menggunakan lampu dan minyak milik negara.
Begitulah cara seorang yang amin (jujur dan tepercaya) dalam menjalankan tugas. Ia melihat jabatan merupakan amanah yang sarat peluang. Bukan peluang untuk menumpuk harta dan memperkaya diri. Tapi, peluang untuk mempermulus terlaksananya tugas utama sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di muka bumi ini. Melalui jabatannya, ia tebarkan nilai-nilai keadilan di tengah masyarakat.
Pemimpin seperti ini akan menjadi panutan dan selalu dicintai rakyatnya. Masyarakat akan merasa tenang di bawah kepemimpinannya. Di akhirat kelak ia akan mendapat penghargaan khusus dari Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan: ''Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan di sisi Allah di saat tidak ada naungan kecuali naungan dari Allah, salah satu di antaranya adalah pemimpin yang adil.'' (HR Bukhari dan Muslim).
Lawan al-amin adalah khianat. Cara memimpin pemimpin khianat penuh kecurangan, tidak amanah, dan jauh dari nilai-nilai keadilan. Mereka tidak peduli dengan jeritan rakyat yang dipimpinnya.
Di Akhirat kelak mereka akan menuai kesengsaraan. Rasulullah bersabda, ''Tidaklah seorang diamanahi memimpin suatu kaum kemudian ia meninggal dalam keadaan curang terhadap rakyatnya maka diharamkan baginya surga.'' (Bukhari dan Muslim). Sudahkah kita memiliki kesiapan mempertanggungjawabkan amanah yang dipikulkan kepada kita?
Tag :// Buka Hati dan Pikiran,
Tag :// Cerita Menggugah,
Tag :// Kisah Nyata Inspiratif,
Tag :// Sejarah Islam
Islam adalah agama yang sangat sempurna. Semua sisi kehidupan manusia telah diaturnya dengan sangat rapi. Termasuk dalam urusan berobat dan mengobati penyakit. Semua penyakit pasti ada obatnya. Rasulullah telah menjamin hal itu. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan menciptakan pula obatnya” (HR. Abu Daud) Dalam riwayat lain, “Setiap penyakit itu ada obatnya.” (HR. Muslim). Hadits ini merupakan motivasi kepada kita agar tidak putus asa dalam melawan penyakit.
Setiap penyakit harus kita hadapi dengan optimisme yang disertai usaha dan doa. Berusaha mencari obatnya dan berdoa kepada Allah agar dikaruniai kesembuhan, lalu memasrahkan hasilnya kepada-Nya. Dengan cara seperti ini, Allah akan memenuhi keinginan dan harapan-harapan kita untuk sembuh. Allah berfirman, “Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (ath-Tholaq: 3).
Dalam usaha dan proses mencari obat dan kesembuhan itu kita harus selalu menjunjung tinggi hukum-hukum syari’at. Kita tidak boleh berobat secara bebas tanpa peduli halal dan haram. Syari’at harus tetap menjadi acuan utama dalam memilih obat dan cara pengobatan. Rasulullah bersabda, “Berobatlah kalian dan janganlah berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Daud)
Perkara yang haram dilarang karena hal itu tidak akan mendatangkan kesembuhan yang hakiki. Sebab obat yang haram itu sendiri hakikatnya adalah penyakit. Penyakit yang akan menyerang hati dan jiwa kita yang bahayanya tentu jauh lebih dahsyat. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya dia (khamar) itu bukanlah obat akan tetapi penyakit (HR. Muslim). Allah dan Rasulullahpun sudah memastikan bahwa kesembuhan itu tidak terletak pada perkara-perkara yang diharamkan.
Berobat dengan yang haram meliputi dua hal. Bisa obatnya yang memang haram. Seperti ketika seorang berobat dengan menggunakan khamar atau barang haram lainnya. Bisa juga cara berobatnya yang haram. Seperti ketika seorang berobat dengan bantuan dukun.
Berkaitan dengan berobat kepada dukun, Rasulullah sangat keras dan tegas dalam melarangnya. Hal itu tidak terlalu mengherankan, sebab menggunakan jasa dukun termasuk bentuk kesyirikan. Ancamannya tidaklah ringan. Orang yang mendatangi dukun dan membenarkan perkataannya, akan terjerumus pada kekufuran.
Sebagai gantinya, Islam telah menyiapkan rukyah. Rukyah adalah metode pengobatan yang dilegalkan oleh syari’at. Caranyapun tidak sulit. Cukup dengan membacakan ayat-ayat al-Qur’an atau doa kepada orang yang sakit dengan khusyu’. Cara ini terbilang mujarrab. Rasulullah dan para sahabatnya kerap menggunkan cara ini dalam mengobati penyakit.
Sebagai makhluk yang lemah, apalagi dalam kondisi sakit, kita harus sadar dan yakin bahwa tidak ada penyakit yang menimpa kita kecuali atas izin dan kehendak Allah. Demikian pula dengan kesembuhan, tidak akan mungkin terwujud tanpa izin dan kehendak Allah. Karenanya, pada saat sakit, yang paling kita butuhkan sebenarnya adalah belas kasihan dari Sang Maha Penyembuh.
Tentu saja belas kasihan itu tidak mungkin diraih dengan menggunakan cara-cara yang diharamkan dan dimurkai-Nya. Belas kasihan itu hanya bisa turun jika kita selalu istiqamah di atas aturan yang telah dibuat-Nya. Terutama aturan mengenai memilih obat atau cara pengobatan. Jika hal itu bisa kita lakukan maka insya Allah kesembuahan akan selalu menaungi kita. Amiin!
Tag :// Bina Hidup Sehat,
Tag :// Buka Hati dan Pikiran
Besi berani atau biasa disebut magnet memiliki daya tolak menolak dan tarik menarik yang kadang-kadang membuatkan kita kagum. Merenung keajaiban dan misteri di sebalik besi yang pelik itu. Walaupun kewujudan magnet telah berabad tahun disadari, namun keistimewaannya menjadikannya cukup unik dan misteri bagi mereka-mereka yang selalu berfikir.
Banyak pertanyaan yang mungkin sampai sekarang kita belum bisa menjawabnya. Seperti bagaimana sebuah batang besi bisa menarik benda-benda yang terbuat dari besi? Dengan cara apa sebuah batang besi bisa mengalami magnetisasi?
Batang besi yang melekat pada sebuah magnet akan memiliki sifat magnetik. Proses magnetisasi ini dekenal sebagai induksi magnetik. Bagaimana jika magnet yang melekat pada batang besi dilepaskan? Untuk beberapa saat batang besi akan mempertahankan sifat magnetiknya, akan tetapi setelah beberapa saat kemudian, batang besi kehilangan sifat magnetiknya.
Secara umum cara membuat magnet dari besi atau baja antara lain: digosok dengan magnet lain secara searah, kedua dengan induksi magnet. Ketiga magnet diletakkan pada kumparan kawat berbentuk tabung panjang dengan lilitan yang sangat rapat dan dialiri arus listrik yang searah.
Sosok orang beriman seharusnya bisa menjadi besi berani atau magnet bagi besi-besi biasa. Artinya orang beriman adalah sosok yang memiliki karisma dengan akhlaq, ilmu dan kepribadiannya sehingga masyarakat awam dengan sendirinya akan tertarik untuk mengikutinya. Sebab besi berani itu tidak bisa menarik besi-besi biasa yang lain ketika dia tidak memiliki magnet yang kuat. Demikian juga orang-orang yang tidak memiliki kelebihan maka tidak akan bisa menarik orang lain.
Pada orang-orang besar karena memiliki pengaruh yang besar, itulah tenaga kekuatan magnetisnya. Kita mungkin pernah berjumpa dengan orang-orang semacam itu, walaupun orangnya tampak sederhana, tenang, tak banyak bicaranya, dan tak ada suatu perbuatan yang menonjol atau luar biasa padanya, tetapi namun kita mengaguminya, dan menaruh respect serta penghargaan kepadanya.
Seolah-olah ada suatu tenaga kekuatan gaib yang memancar dari diri pribadi orang itu, sehingga lantaran demikian kita tertarik dan terpengaruh kepadanya. Dengan tak kita sadari ketika itu kita mau saja menuruti gagasan-dan idenya.
Contoh paling dekat adalah keberadaan ustad Abdullah Said, pendiri pesantren Hidayatullah. Dengan kesederhanaannya, beliau bisa menarik orang-orang untuk berbondong-bondong datang ke Gunung Tembak dan menggerakan ide-idenya dengan mendirikan banyak cabang.
Orang besar yang selalu dihormati dan disegani, dimana orang didalam lingkungannya menaruh perhatian, simpati, rasa malu, respect dan kagum, mereka jadi terpengaruh dan menuruti saja saran dan ide yang diberikan olehnya, sebenarnya mereka adalah orang-orang yang memiliki atau mempergunakan kekuatan magnetisme pribadinya, sehingga dengan demikian memperoleh sukses dalam kedudukan dan pergaulan hidupnya.
Di dalam diri tiap-tiap manusia pada hakekatnya telah ada unsur-unsur daya tarik, yang dapat menarik perhatian dan mempengaruhi satu sama lain, akan tetapi berbeda-beda dalam kekuatannya, ada yang lemah, dan ada pula yang kuat. Banyak cara yang bisa ditempuh untuk bisa mendapatkan daya meningkatkan magnet pribadi. Ibadah yang tekun dengan istiqomah seperti shalat berjamaah lima waktu di masjid, shalat lail, puasa daud, baca al-Qur'an. Mengurangi peyakit-penyakit hati dan membina ukhwah yang baik dengan sesama manusia, terakhir berusaha ikhlas yang tulus hanya untuk Allah.
Selama ini, kebanyakan umat Islam mungkin sudah sangat biasa dengan istilah taqwa. Setiap hari Jum’at, khotib selalu dan harus mewasiatkan taqwa kepada para jamaah shalat Jum’at. Kemudian ketika sumpah jabatan juga selalu ada kata taqwa.
Apalagi baju-baju muslim atau koko juga disebut baju taqwa. Nama-nama masjid jami juga banyak menggunakan kata taqwa. Sehingga istilah taqwa tidak asing di telinga umat Islam karena sangat populer dan indah untuk diucapkan atau didengar.
Namun karena sudah sangat biasa diucapkan dan didengar sehingga menjadi kehilangan ruh dari istilah taqwa. Pesan taqwa menjadi seperti penghias bibir dari para da’i dan penceramah. Pejabat dan penjahat nyaris tidak bisa dibedakan kefasehannya dalam mengucapkan kata taqwa, apalagi jika sama-sama memakai baju taqwa.
Kemudian pemaknaan taqwa juga terkesan disederhanakan dan meringankan. “Melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah” sebenarnya tidak ada yang salah dengan definisi tersebut. Namun penjelasan yang kurang mendalam tentang dua variabel tersebut sehingga seolah taqwa itu seperti membeli kacang goreng yang mudah membeli dan memakannya.
Padahal pesan taqwa adalah inti dari ajaran Islam dan keimanan seseorang. Ajaran Islam baik yang terkait dengan muamalah, ibadah, aqidah, syari’ah dan akhlaq semua menuju ketaqwaan kepada Allah swt. Jika tidak dalam rangka meraih taqwa maka secara otomatis tertolak amal-amalnya.
Keimanan seseorang juga sangat jelas dengan kualitas taqwa. Artinya sangat dipertanyakan orang yang mengaku beriman tapi tidak melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Atau jika dalam pelaksanaan perintah Allah masih setengah-setengah maka keimanan juga masih separo, mengaku bertaqwa tapi masih doyan berbuat dosa juga maka bohong belaka.
Taqwa adalah derajat paling mulia di sisi Allah swt. Sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya surat al-Hujurat ayat 13,” Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa.”
Makna secara dohir dan logika sudah sangat mudah dipahami, bahwa orang yang paling bertaqwa adalah orang yang paling maksimal dalam menjalankan perintah-perintah Allah dan yang paling sedikit pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan terhadap larangan-larangan Allah. Tentu orang yang seperti ini sulit dan sedikit yang bisa meraihnya.
Sehingga mari kita mencoba untuk menyegarkan pesan-pesan taqwa kepada keluarga, saudara, teman dan orang-orang di sekitar. Bukan sekedar basa-basi tapi ketulusan untuk bersama-sama mendapatkan kemuliaan di sisi Allah swt.
Allah menilai bukan berapa banyak baju taqwa kita, atau sudah berapa kali mengucapkan kata taqwa dan sejauh mana pemahaman kita tentang taqwa. Tapi pengamalan dan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan insan bertaqwa adalah menjadi bingkai dalam keseharian kita. Wallahu a’lam
Tag :// Buka Hati dan Pikiran,
Tag :// Pendidikan Anak
















































