Tampilkan postingan dengan label Bina Hidup Sehat. Tampilkan semua postingan
Penyalahgunaan obat-obatan terlarang makin marak di berbagai negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Masyarakat mengenalnya sebagai narkoba yang merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan bahan berbahaya lainnya.
Banyak pengguna obat-obatan ini yang awalnya tergoda merasakan kesenangan sesaat atau sebagai pelarian dari masalah yang dihadapi. Ketahuilah bahwa efek narkoba dapat merusak kesehatan secara fisik dan kejiwaan.
Risiko Gangguan Kesehatan
Bagai dua sisi mata uang, obat dapat bermanfaat dan sekaligus berbahaya bagi tubuh. Jika obat yang digunakan sesuai dengan instruksi dan di bawah pengawasan dokter, maka hasilnya dapat menyembuhkan. Sebaliknya, obat-obatan terlarang akan berbahaya jika dikonsumsi tanpa pengawasan dokter dan didasari tujuan yang tidak tepat.
Narkoba dapat mengganggu kondisi tubuh dan otak. Bahkan narkoba dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk menjalani hidup sehat dan mengambil keputusan yang benar. Pengaruh obat-obatan tersebut dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Sebagai contoh, penyalahgunaan metamfetamina atau lebih dikenal sebagai sabu-sabu, opium, dan kokain, dapat menyebabkan berbagai efek buruk, termasuk perilaku psikotik, kejang-kejang, dan bahkan kematian akibat overdosis.
Sementara itu, efek jangka pendek ekstasi dapat menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit hingga menyebabkan penggunanya mengalami kejang-kejang, serangan panik, halusinasi, sakit pada dada dan perilaku agresif. Jika digunakan dalam jangka panjang dapat merusak otak.
Golongan obat-obatan asam gamma-hidroksibutirat dan rohypnol dapat mengakibatkan efek sedatif, kebingungan, kehilangan ingatan, perubahan perilaku, koordinasi tubuh terganggu dan menurunnya tingkat kesadaran. Pada dosis tinggi, obat ini dapat menyebabkan kejang, koma, dan kematian.
Penggunaan mariyuana atau ganja dapat menyebabkan efek samping halusinasi, muntah, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi, gangguan kecemasan, kebingungan serta paranoia. Efek jangka panjang mariyuana adalah gangguan mental seperti depresi, skizofrenia dan gangguan kecemasan.
Konsumsi narkoba secara berulang dalam jangka panjang akan memicu perubahan pada sel saraf dalam otak, yang kemudian mengganggu komunikasi antar sel saraf. Bahkan setelah konsumsi dihentikan, efek tersebut akan memakan waktu untuk hilang.
Gangguan Kualitas Hidup
Saat seseorang mulai mengonsumsi narkoba, terdapat kemungkinan besar untuk mengalami kecanduan. Makin lama, pengguna akan membutuhkan dosis yang lebih tinggi demi dapat merasakan efek yang sama. Ketika efek narkoba mulai hilang, pengguna akan merasa tidak nyaman akibat munculnya gejala putus obat dan akan ingin kembali memakainya.
Narkoba yang larut di dalam tubuh akan dialirkan melalui darah ke seluruh tubuh, termasuk ke otak. Efek dari obat-obatan bergantung kepada jenis yang dikonsumsi, dosis, durasi pemakaian, dan ukuran tubuh orang yang mengonsumsinya.
Selain berpengaruh pada tubuh, ketergantungan narkoba juga dapat menyebabkan hal-hal yang mengganggu kualitas hidup seseorang. Misalnya pencadu rentan mengalami masalah di kantor, sekolah atau keluarga, kesulitan keuangan, hingga berurusan dengan pihak kepolisian karena melanggar hukum.
Seorang pecandu juga lebih rentan mengalami infeksi menular seksual, kecelakaan, dan melakukan usaha untuk bunuh diri akibat di bawah pengaruh obat.
Membidik Semua Kalangan
Kecanduan narkoba dapat dialami oleh siapa saja, tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau status ekonomi. Namun ada beberapa karakteristik yang lebih berisiko. Misalnya seseorang yang memiliki riwayat keluarga pecandu, memiliki gangguan kesehatan mental, seperti depresi atau stres setelah mengalami kejadian yang traumatis yang tidak teratasi. Selain itu, kurangnya keharmonisan hubungan dalam keluarga juga dapat menjadi faktor pemicu.
Remaja bisa rentan terhadap godaan untuk mencoba narkoba. Sebagian dari mereka termakan oleh anggapan bahwa mengonsumsi narkoba dapat membuat mereka menjadi lebih populer, mampu berpikir lebih baik, bergerak lebih aktif, atau memiliki stamina yang lebih kuat. Namun hal ini keliru mengingat potensi kecanduan dan efek samping obat-obat narkoba.
Sebagian lagi menganggap narkoba dapat menjadi pelarian dari permasalahan yang dihadapi. Namun sebenarnya, narkoba bukan hanya tidak menyelesaikan masalah tapi menambah. Saat pengaruh obat itu hilang, apa pun masalah dan perasaan yang dirasakan akan tetap ada. Narkoba justru dapat merusak kondisi tubuh dan berbagai aspek dalam kehidupan seseorang.
Segera Hentikan
Penggunaan obat-obatan terlarang harus segera dihentikan. Makin cepat pengguna mendapatkan pertolongan, maka makin cepat proses pemulihannya. Konsultasikan kepada dokter yang menangani kasus kecanduan obat atau segera lakukan rehabilitasi narkoba. Cari pertolongan darurat jika Anda atau seseorang yang Anda ketahui mengonsumsi obat-obatan terlarang mengalami hal-hal berikut ini.
Penurunan tingkat kesadaran.
Sulit bernapas.
Kejang.
Merasa tekanan atau sakit pada dada.
Kemungkinan overdosis.
Gangguan fisik atau psikologis lain setelah penggunaan obat.
Narkoba bukanlah jawaban atas permasalahan dalam hidup. Obat-obatan terlarang ini justru dapat merusak tubuh pengguna dan hubungannya dengan orang di sekitar. Waspadai diri Anda dan keluarga karena sebagian besar kasus kecanduan narkoba diakibatkan oleh coba-coba.
Rep: Alodokter
Editor: Admin Pendidikan Gratis....
Banyak pengguna obat-obatan ini yang awalnya tergoda merasakan kesenangan sesaat atau sebagai pelarian dari masalah yang dihadapi. Ketahuilah bahwa efek narkoba dapat merusak kesehatan secara fisik dan kejiwaan.
Risiko Gangguan Kesehatan
Bagai dua sisi mata uang, obat dapat bermanfaat dan sekaligus berbahaya bagi tubuh. Jika obat yang digunakan sesuai dengan instruksi dan di bawah pengawasan dokter, maka hasilnya dapat menyembuhkan. Sebaliknya, obat-obatan terlarang akan berbahaya jika dikonsumsi tanpa pengawasan dokter dan didasari tujuan yang tidak tepat.
Narkoba dapat mengganggu kondisi tubuh dan otak. Bahkan narkoba dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk menjalani hidup sehat dan mengambil keputusan yang benar. Pengaruh obat-obatan tersebut dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Sebagai contoh, penyalahgunaan metamfetamina atau lebih dikenal sebagai sabu-sabu, opium, dan kokain, dapat menyebabkan berbagai efek buruk, termasuk perilaku psikotik, kejang-kejang, dan bahkan kematian akibat overdosis.
Sementara itu, efek jangka pendek ekstasi dapat menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit hingga menyebabkan penggunanya mengalami kejang-kejang, serangan panik, halusinasi, sakit pada dada dan perilaku agresif. Jika digunakan dalam jangka panjang dapat merusak otak.
Golongan obat-obatan asam gamma-hidroksibutirat dan rohypnol dapat mengakibatkan efek sedatif, kebingungan, kehilangan ingatan, perubahan perilaku, koordinasi tubuh terganggu dan menurunnya tingkat kesadaran. Pada dosis tinggi, obat ini dapat menyebabkan kejang, koma, dan kematian.
Penggunaan mariyuana atau ganja dapat menyebabkan efek samping halusinasi, muntah, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi, gangguan kecemasan, kebingungan serta paranoia. Efek jangka panjang mariyuana adalah gangguan mental seperti depresi, skizofrenia dan gangguan kecemasan.
Konsumsi narkoba secara berulang dalam jangka panjang akan memicu perubahan pada sel saraf dalam otak, yang kemudian mengganggu komunikasi antar sel saraf. Bahkan setelah konsumsi dihentikan, efek tersebut akan memakan waktu untuk hilang.
Gangguan Kualitas Hidup
Saat seseorang mulai mengonsumsi narkoba, terdapat kemungkinan besar untuk mengalami kecanduan. Makin lama, pengguna akan membutuhkan dosis yang lebih tinggi demi dapat merasakan efek yang sama. Ketika efek narkoba mulai hilang, pengguna akan merasa tidak nyaman akibat munculnya gejala putus obat dan akan ingin kembali memakainya.
Narkoba yang larut di dalam tubuh akan dialirkan melalui darah ke seluruh tubuh, termasuk ke otak. Efek dari obat-obatan bergantung kepada jenis yang dikonsumsi, dosis, durasi pemakaian, dan ukuran tubuh orang yang mengonsumsinya.
Selain berpengaruh pada tubuh, ketergantungan narkoba juga dapat menyebabkan hal-hal yang mengganggu kualitas hidup seseorang. Misalnya pencadu rentan mengalami masalah di kantor, sekolah atau keluarga, kesulitan keuangan, hingga berurusan dengan pihak kepolisian karena melanggar hukum.
Seorang pecandu juga lebih rentan mengalami infeksi menular seksual, kecelakaan, dan melakukan usaha untuk bunuh diri akibat di bawah pengaruh obat.
Membidik Semua Kalangan
Kecanduan narkoba dapat dialami oleh siapa saja, tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau status ekonomi. Namun ada beberapa karakteristik yang lebih berisiko. Misalnya seseorang yang memiliki riwayat keluarga pecandu, memiliki gangguan kesehatan mental, seperti depresi atau stres setelah mengalami kejadian yang traumatis yang tidak teratasi. Selain itu, kurangnya keharmonisan hubungan dalam keluarga juga dapat menjadi faktor pemicu.
Remaja bisa rentan terhadap godaan untuk mencoba narkoba. Sebagian dari mereka termakan oleh anggapan bahwa mengonsumsi narkoba dapat membuat mereka menjadi lebih populer, mampu berpikir lebih baik, bergerak lebih aktif, atau memiliki stamina yang lebih kuat. Namun hal ini keliru mengingat potensi kecanduan dan efek samping obat-obat narkoba.
Sebagian lagi menganggap narkoba dapat menjadi pelarian dari permasalahan yang dihadapi. Namun sebenarnya, narkoba bukan hanya tidak menyelesaikan masalah tapi menambah. Saat pengaruh obat itu hilang, apa pun masalah dan perasaan yang dirasakan akan tetap ada. Narkoba justru dapat merusak kondisi tubuh dan berbagai aspek dalam kehidupan seseorang.
Segera Hentikan
Penggunaan obat-obatan terlarang harus segera dihentikan. Makin cepat pengguna mendapatkan pertolongan, maka makin cepat proses pemulihannya. Konsultasikan kepada dokter yang menangani kasus kecanduan obat atau segera lakukan rehabilitasi narkoba. Cari pertolongan darurat jika Anda atau seseorang yang Anda ketahui mengonsumsi obat-obatan terlarang mengalami hal-hal berikut ini.
Penurunan tingkat kesadaran.
Sulit bernapas.
Kejang.
Merasa tekanan atau sakit pada dada.
Kemungkinan overdosis.
Gangguan fisik atau psikologis lain setelah penggunaan obat.
Narkoba bukanlah jawaban atas permasalahan dalam hidup. Obat-obatan terlarang ini justru dapat merusak tubuh pengguna dan hubungannya dengan orang di sekitar. Waspadai diri Anda dan keluarga karena sebagian besar kasus kecanduan narkoba diakibatkan oleh coba-coba.
Editor: Admin Pendidikan Gratis....
Tag :// Bina Hidup Sehat
JIKA kita amati, mengapa penyakit di zaman dahulu tidak separah dan tidak seberat manusia modern. Apa sebab?
Ternyata jawabannya terletak pada seberapa sederhana seseorang mengkonsumsi makanan hariannya.
Hal ini sebenarnya telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah sallallahu ‘alaihiwasallam. Beliau begitu sederhana dalam urusan makanan yang beliau konsumsi yang akhirnya membuat beliau menjadi manusia yang sangat sehat, baik secara fisik maupun secara qolbu.
Hal ini sebenarnya dapat kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari, artinya kesederhanaan seseorang dalam mengkonsumsi makanan hariannya lah yang menenetukan sedikit banyak penyakit, yang kalaulah itu menjadi takdir untuknya, meski hal ini belumlah menjadi faktor penentu 100 persen.
Namun, jika kita mencontoh Rasulullah, ya benar sekali, beliau tak pernah kenyang selama hidupnya, bahkan beliau lebih banyak dan lebih sering lapar daripada kenyang atau kekenyangan, karena memang salah satu penyebab lemahnya iman seseorang adalah banyaknya makanan.
Yah, percaya, wisata kuliner dan berbagai ragam makanan masa kini plus dengan berbagai bahan-bahan sintetik didalamnya, sangat mengundang selera manusia untuk mengkonsumsinya, tapi sebenarnya insan yang bijak adalah insan yang memperhatikan sekali apa yang masuk ke dalam perutnya, sehingga semakin sederhana makanan yang ia konsumsi dan semakin alami, maka semakin kecil peluang ia mendapatkan sakit yang berat.
Jadi ya, jangan tanya kenapa banyak mengalami keluhan dan sakit sakit yang sedikit banyak menganggu aktifitas sehari-hari jika yang dikonsumsi adalah makanan “sampah” atau makanan minuman yang memang tidak layak masuk ke dalam tubuh manusia.
Tinggal kita sendiri yang menilai, selama ini lebih banyak kita makan untuk memenuhi hawa nafsu lebih dominan atau justru makan benar benar hanya sekedar memuaskan lidah, bahasa sederhananya, enak di mulut, sampah di perut.*
Rep: Hidcom
Editor: Admin Pendidikan Gratis...
Ternyata jawabannya terletak pada seberapa sederhana seseorang mengkonsumsi makanan hariannya.
Hal ini sebenarnya telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah sallallahu ‘alaihiwasallam. Beliau begitu sederhana dalam urusan makanan yang beliau konsumsi yang akhirnya membuat beliau menjadi manusia yang sangat sehat, baik secara fisik maupun secara qolbu.
Hal ini sebenarnya dapat kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari, artinya kesederhanaan seseorang dalam mengkonsumsi makanan hariannya lah yang menenetukan sedikit banyak penyakit, yang kalaulah itu menjadi takdir untuknya, meski hal ini belumlah menjadi faktor penentu 100 persen.
Namun, jika kita mencontoh Rasulullah, ya benar sekali, beliau tak pernah kenyang selama hidupnya, bahkan beliau lebih banyak dan lebih sering lapar daripada kenyang atau kekenyangan, karena memang salah satu penyebab lemahnya iman seseorang adalah banyaknya makanan.
Yah, percaya, wisata kuliner dan berbagai ragam makanan masa kini plus dengan berbagai bahan-bahan sintetik didalamnya, sangat mengundang selera manusia untuk mengkonsumsinya, tapi sebenarnya insan yang bijak adalah insan yang memperhatikan sekali apa yang masuk ke dalam perutnya, sehingga semakin sederhana makanan yang ia konsumsi dan semakin alami, maka semakin kecil peluang ia mendapatkan sakit yang berat.
Jadi ya, jangan tanya kenapa banyak mengalami keluhan dan sakit sakit yang sedikit banyak menganggu aktifitas sehari-hari jika yang dikonsumsi adalah makanan “sampah” atau makanan minuman yang memang tidak layak masuk ke dalam tubuh manusia.
Tinggal kita sendiri yang menilai, selama ini lebih banyak kita makan untuk memenuhi hawa nafsu lebih dominan atau justru makan benar benar hanya sekedar memuaskan lidah, bahasa sederhananya, enak di mulut, sampah di perut.*
Rep: Hidcom
Editor: Admin Pendidikan Gratis...
Tag :// Bina Hidup Sehat
Polusi udara untuk pertama kali disebut sebagai penyumbang utama kematian dan cacat yang disebabkan oleh strok, terutama negara-negara berkembang.
polusi udara, baik yang dihasilkan dari pembakaran dalam kegiatan memasak atau asap lalu lintas di luar rumah, berada di antara peringkat sepuluh penyebab stroke, bersama dengan resiko yang telah dikenal seperti perokok, tekanan darah tinggi dan obesitas.
Satu tim peneliti internasional, sebagaimana dimuat Kuala Lumpur Post dari AFP belum lama ini, telah menganalisis data dari sejumlah penelitian, laporan, dan data statistik resmi, untuk mengetahui risiko stroke di 188 negara dari tahun 1990-2013.
“Temuan mencolok dari studi kami, proporsi tinggi atas stroke disebabkan oleh polusi udara lingkungan, terutama di negara-negara berkembang,” kata seorang tim studi, Valery Feigin, dari Auckland University of Technology, Selandia Baru.
Para peneliti mengatakan, polusi udara sebagai penyebab stroke merupakan penelitian pertama di dunia terkait dampaknya terhadap kesehatan, yang dalam beberapa tahun masyarakat menjadi sakit, cacat, atau meninggal karena stroke.
Sekitar 15 juta orang di seluruh dunia menderita stroke setiap tahun, yang menyebabkan enam juta orang meninggal dan lima juta tersisa dalam kondisi cacat — termasuk kehilangan penglihatan atau kemampuan bicara, kelumpuhan, dan kehilangan daya ingat.
Secara global, meskipun terdapat perbedaan besar pada setiap negara dan wilayah, faktor risiko stroke adalah tekanan darah tinggi, diet rendah buah, kelebihan berat badan, makan terlalu banyak garam, merokok, dan tidak cukup makan sayuran, kata tim.
Pencemaran lingkungan berada pada posisi ketujuh, dan polusi udara rumah tangga yang berasal dari bahan bakar padat berada di urutan kedelapan. Kemudian diet rendah biji-bijian dan gula darah tinggi melengkapi sepuluh besar.
Para peneliti menemukan bahwa 90,5 persen dari penyebab stroke disebabkan “sejumlah faktor “, terutama perilaku merokok, makan terlalu banyak gula dan tidak berolahraga cukup, serta masalah kesehatan yang terkait, seperti diabetes dan penyakit jantung.
Mengontrol faktor gaya hidup, yang berperan besar di negara-negara kaya daripada negara miskin, “Dapat mencegah sekitar tiga-perempat dari stroke di seluruh dunia,” kata Feigin.
Konsumsi Gula Naik, Merokok Menurun
Penelitian ini juga mencatat, polusi udara sebagai “faktor penyebab”, memberi arti bahwa masyarakat atau pemerintah mesti dapat melakukan sesuatu perubahan.
“Temuan ini penting untuk kampanye pendidikan, perencanaan berbasis bukti, pengaturan prioritas,dan alokasi sumber daya dalam pencegahan stroke,” tulis tim peneliti, yang juga dimuat di The Lancet Neurology.
“Polusi udara telah muncul sebagai kontributor signifikan penyebab stroke, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, dan karena itu mengurangi paparan polusi udara harus menjadi salah satu prioritas utama untuk mengurangi penyebab stroke pada negara-negara ini.”
Di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah di Asia dan Afrika, hampir seperlima dari penyebab stroke disebabkan polusi udara rumah tangga, sementara persentase yang sama untuk polusi udara ambien (di luar rumah) terjadi di China dan India.
Polusi udara dapat meningkatkan risiko stroke melalui kenaikan tekanan darah, pengerasan pembuluh darah, atau penyumbatan pembuluh darah.
Faktor risiko yang kontribusinya menyusut antara tahun 1990 dan 2013 adalah penggunaan tembakau, kata tim peneliti, terutama di negara-negara maju.
Faktor risiko stroke yang tumbuh paling cepat adalah konsumsi minuman ringan manis.
Rep: Hidcom
Editor: Admin Pendidikan Gratis...
polusi udara, baik yang dihasilkan dari pembakaran dalam kegiatan memasak atau asap lalu lintas di luar rumah, berada di antara peringkat sepuluh penyebab stroke, bersama dengan resiko yang telah dikenal seperti perokok, tekanan darah tinggi dan obesitas.
Satu tim peneliti internasional, sebagaimana dimuat Kuala Lumpur Post dari AFP belum lama ini, telah menganalisis data dari sejumlah penelitian, laporan, dan data statistik resmi, untuk mengetahui risiko stroke di 188 negara dari tahun 1990-2013.
“Temuan mencolok dari studi kami, proporsi tinggi atas stroke disebabkan oleh polusi udara lingkungan, terutama di negara-negara berkembang,” kata seorang tim studi, Valery Feigin, dari Auckland University of Technology, Selandia Baru.
Para peneliti mengatakan, polusi udara sebagai penyebab stroke merupakan penelitian pertama di dunia terkait dampaknya terhadap kesehatan, yang dalam beberapa tahun masyarakat menjadi sakit, cacat, atau meninggal karena stroke.
Sekitar 15 juta orang di seluruh dunia menderita stroke setiap tahun, yang menyebabkan enam juta orang meninggal dan lima juta tersisa dalam kondisi cacat — termasuk kehilangan penglihatan atau kemampuan bicara, kelumpuhan, dan kehilangan daya ingat.
Secara global, meskipun terdapat perbedaan besar pada setiap negara dan wilayah, faktor risiko stroke adalah tekanan darah tinggi, diet rendah buah, kelebihan berat badan, makan terlalu banyak garam, merokok, dan tidak cukup makan sayuran, kata tim.
Pencemaran lingkungan berada pada posisi ketujuh, dan polusi udara rumah tangga yang berasal dari bahan bakar padat berada di urutan kedelapan. Kemudian diet rendah biji-bijian dan gula darah tinggi melengkapi sepuluh besar.
Para peneliti menemukan bahwa 90,5 persen dari penyebab stroke disebabkan “sejumlah faktor “, terutama perilaku merokok, makan terlalu banyak gula dan tidak berolahraga cukup, serta masalah kesehatan yang terkait, seperti diabetes dan penyakit jantung.
Mengontrol faktor gaya hidup, yang berperan besar di negara-negara kaya daripada negara miskin, “Dapat mencegah sekitar tiga-perempat dari stroke di seluruh dunia,” kata Feigin.
Konsumsi Gula Naik, Merokok Menurun
Penelitian ini juga mencatat, polusi udara sebagai “faktor penyebab”, memberi arti bahwa masyarakat atau pemerintah mesti dapat melakukan sesuatu perubahan.
“Temuan ini penting untuk kampanye pendidikan, perencanaan berbasis bukti, pengaturan prioritas,dan alokasi sumber daya dalam pencegahan stroke,” tulis tim peneliti, yang juga dimuat di The Lancet Neurology.
“Polusi udara telah muncul sebagai kontributor signifikan penyebab stroke, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, dan karena itu mengurangi paparan polusi udara harus menjadi salah satu prioritas utama untuk mengurangi penyebab stroke pada negara-negara ini.”
Di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah di Asia dan Afrika, hampir seperlima dari penyebab stroke disebabkan polusi udara rumah tangga, sementara persentase yang sama untuk polusi udara ambien (di luar rumah) terjadi di China dan India.
Polusi udara dapat meningkatkan risiko stroke melalui kenaikan tekanan darah, pengerasan pembuluh darah, atau penyumbatan pembuluh darah.
Faktor risiko yang kontribusinya menyusut antara tahun 1990 dan 2013 adalah penggunaan tembakau, kata tim peneliti, terutama di negara-negara maju.
Faktor risiko stroke yang tumbuh paling cepat adalah konsumsi minuman ringan manis.
Rep: Hidcom
Editor: Admin Pendidikan Gratis...
Tag :// Bina Hidup Sehat
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, ia berkata, ada seorang yang datang kepada Nabi saw, seraya bertanya, "Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?" Beliau menjawab, "bersedekahlah selama kamu masih sehat, bakhil (suka harta), takut miskin, dan masih berkeinginan untuk kaya, dan jangan kamu menunda-nunda sehingga apabila nyawa sudah sampai di tenggorokan maka kamu baru berkata, untuk fulan sekian dan untuk fulan sekian, padahal harta itu sudah menjadi harta si fulan (ahli warisnya)."
(Muttafaqun'alaih)
Hadits di atas memberikan pelajaran penting kepada kita mengenai saat sedekah yang akan diganjar dengan pahala yang besar oleh Allah swt, salah satunya adalah bersekah saat diri kita sedang sehat,
jangan sampai nikmat sehat yang Allah swt anugrahkan kepada kita kurang dari amal sholeh, salah satunya kurang dari sedekah, selain pahala besar, ketika kita bersedekah pada saat sehat akan menjadikan kita golongan orang yang menyegerakan amal kebaikan,
selain itu bersedekah pada saat diri kita sehat sama dengan mensyukuri nikmat kesehatan,itu karena bukti mensyukuri nikmat sehat adalah mempergunakan nikmat sehat itu dengan melakukan ke taatan kepada-Nya salah satunya mengisi nikmat sehat dengan banyak bersedekah.
Rep: Hidcom
Editor: Admin Pendidikan Gratis...
(Muttafaqun'alaih)
Hadits di atas memberikan pelajaran penting kepada kita mengenai saat sedekah yang akan diganjar dengan pahala yang besar oleh Allah swt, salah satunya adalah bersekah saat diri kita sedang sehat,
jangan sampai nikmat sehat yang Allah swt anugrahkan kepada kita kurang dari amal sholeh, salah satunya kurang dari sedekah, selain pahala besar, ketika kita bersedekah pada saat sehat akan menjadikan kita golongan orang yang menyegerakan amal kebaikan,
selain itu bersedekah pada saat diri kita sehat sama dengan mensyukuri nikmat kesehatan,itu karena bukti mensyukuri nikmat sehat adalah mempergunakan nikmat sehat itu dengan melakukan ke taatan kepada-Nya salah satunya mengisi nikmat sehat dengan banyak bersedekah.
Rep: Hidcom
Editor: Admin Pendidikan Gratis...
Tag :// Bina Hidup Sehat
Pernyataan judul di atas seolah mengada-ada tapi kenyataan itu benar-benar ada di perasaan, pikiran dan hati orang-orang miskin yang sedang sakit atau keluarganya sakit. Meskipun mereka tidak ucapkan dan tuliskan pernyataan di atas tapi terbaca dari raut mukanya yang sedih dan panik.
Jika ada otoritas bagi orang miskin untuk bisa memilih menerima atau menolak sakit maka pasti mereka memilih untuk sehat saja. Di antara mereka ada yang berdoa, “Ya Allah kami rela hidup miskin tapi yang penting tidak sakit”. Ada juga yang berkata, “Ya Allah, kalau semua manusia harus diuji kesabaran maka cukuplah kami diberi uji kesabaran dengan kemiskinan dan tidak dengan sakit”
Sebagian ada yang berharap, “Ya Allah kalau sakit itu suatu keharusan yang dialami semua manusia, maka berilah sakit yang ringan-ringan saja dan tidak lama-lama kepada kami yang miskin seperti demam, flue atau panu saja.”
Itulah gambaran harapan mereka, namun kenyataan di hampir semua rumah sakit maka yang banyak pasiennya adalah orang-orang miskin. Bukan Allah tidak memenuhi harapan mereka tapi ada sunnatullah yang lain juga berlaku. Orang miskin memang rentang sakit karena makanannya dari kuantitas dan kualitas tidak memenuhi standart kesehatan, bisa makan setiap hari sudah beruntung sehingga gizi bukan prioritas yang penting ada yang mengganjal di perut.
Pola hidupnya juga tidak teratur jam tidur dan istirahatnya karena habis untuk mengais rezeki, apalagi untuk olah raga karena mereka merasa setiap hari sudah keluar keringat dan air mata. Lingkungan hidupnya kumuh berteman dengan kuman-kuman, bakteri dan lalat. Itu semuanya adalah rawan mengundang penyakit. Inilah keanehan yang menyertai kemiskinan mereka, tidak mau sakit tapi akrab dengan sumber-sumber penyakit termasuk asyik dengan dunia rokok.
Sehingga saat mereka harus pergi kerumah sakit maka beberapa beban yang harus mereka tanggung;
Pertama penderitaan penyakitnya yang tentu menyiksa sakitnya,
Kedua adalah beban biaya yang sudah terbayang-bayang tapi tidak terbayang dari mana mencari biaya tersebut. Rumah sakit hari ini indentik dengan biaya mahal karena mungkin menjadi dokter dan perawat perlu biaya mahal, perlengkapan dan obat-obatan juga mahal.
Ketiga, ada jaminan kesehatan dari pemerintah untuk masyarakat tapi belum merata. Bagi orang miskin berurusan dengan kantor dan surat-surat membuat panas dingin perasaan mereka. Karena kantor itu tempat asing yang menakutkan apalagi petugasnya benar-benar bersikap menakut-nakuti. Surat adalah hal yang membuat alergi, bukan mereka buta huruf tapi bahasa formalitas sulit untuk dipahami orang-orang miskin.
Ketiga beban tersebut semakin membuat menderita orang miskin yang sakit. Maka orang miskin di larang untuk sakit kalau tidak mau semakin miskin dan sakit. Namun di dunia ini pasti masih ada orang-orang kaya yang baik hati dan peduli dengan derita orang-orang miskin. Semoga di antara orang yang baik itu adalah anda yang mau membaca tulisan ini.
Jika ada otoritas bagi orang miskin untuk bisa memilih menerima atau menolak sakit maka pasti mereka memilih untuk sehat saja. Di antara mereka ada yang berdoa, “Ya Allah kami rela hidup miskin tapi yang penting tidak sakit”. Ada juga yang berkata, “Ya Allah, kalau semua manusia harus diuji kesabaran maka cukuplah kami diberi uji kesabaran dengan kemiskinan dan tidak dengan sakit”
Sebagian ada yang berharap, “Ya Allah kalau sakit itu suatu keharusan yang dialami semua manusia, maka berilah sakit yang ringan-ringan saja dan tidak lama-lama kepada kami yang miskin seperti demam, flue atau panu saja.”
Itulah gambaran harapan mereka, namun kenyataan di hampir semua rumah sakit maka yang banyak pasiennya adalah orang-orang miskin. Bukan Allah tidak memenuhi harapan mereka tapi ada sunnatullah yang lain juga berlaku. Orang miskin memang rentang sakit karena makanannya dari kuantitas dan kualitas tidak memenuhi standart kesehatan, bisa makan setiap hari sudah beruntung sehingga gizi bukan prioritas yang penting ada yang mengganjal di perut.
Pola hidupnya juga tidak teratur jam tidur dan istirahatnya karena habis untuk mengais rezeki, apalagi untuk olah raga karena mereka merasa setiap hari sudah keluar keringat dan air mata. Lingkungan hidupnya kumuh berteman dengan kuman-kuman, bakteri dan lalat. Itu semuanya adalah rawan mengundang penyakit. Inilah keanehan yang menyertai kemiskinan mereka, tidak mau sakit tapi akrab dengan sumber-sumber penyakit termasuk asyik dengan dunia rokok.
Sehingga saat mereka harus pergi kerumah sakit maka beberapa beban yang harus mereka tanggung;
Pertama penderitaan penyakitnya yang tentu menyiksa sakitnya,
Kedua adalah beban biaya yang sudah terbayang-bayang tapi tidak terbayang dari mana mencari biaya tersebut. Rumah sakit hari ini indentik dengan biaya mahal karena mungkin menjadi dokter dan perawat perlu biaya mahal, perlengkapan dan obat-obatan juga mahal.
Ketiga, ada jaminan kesehatan dari pemerintah untuk masyarakat tapi belum merata. Bagi orang miskin berurusan dengan kantor dan surat-surat membuat panas dingin perasaan mereka. Karena kantor itu tempat asing yang menakutkan apalagi petugasnya benar-benar bersikap menakut-nakuti. Surat adalah hal yang membuat alergi, bukan mereka buta huruf tapi bahasa formalitas sulit untuk dipahami orang-orang miskin.
Ketiga beban tersebut semakin membuat menderita orang miskin yang sakit. Maka orang miskin di larang untuk sakit kalau tidak mau semakin miskin dan sakit. Namun di dunia ini pasti masih ada orang-orang kaya yang baik hati dan peduli dengan derita orang-orang miskin. Semoga di antara orang yang baik itu adalah anda yang mau membaca tulisan ini.
Tag :// Bina Hidup Sehat,
Tag :// Buka Hati dan Pikiran,
Tag :// Cerita Menggugah,
Tag :// Kisah Nyata Inspiratif
Pada umumnya orang sakit itu sensitive karena sedang menahan rasa sakitnya. Sehingga sedikit ada kesalahan dalam pelayanan maka bisa menangis bagi yang tidak berdaya atau sekalian marah bagi yang masih punya daya.
Hal itu bisa dimaklumi karena orang sakit itu memerlukan perhatian lebih dan pelayanan khusus. Jadi karakter untuk minta diperhatikan dan dilayani bukan hanya dimiliki pejabat tapi juga orang-orang yang sedang sakit.
Ini rasa ego yang manusiawi untuk mendapatkan pengakuan sebagai orang yang layak memerlukan simpati dan empati. Mereka bukan mau manja atau cengeng tapi memang sedang tidak berdaya untuk mendapatkan bantuan orang-orang sekitarnya.
Maka jangan sekali-kali bercanda yang tidak perlu apalagi mengolok dan meremehkan orang yang sedang sakit. Kondisi normal atau sehat saja, tidak semua orang bisa diajak canda, diolok atau diremehkan. Apalagi orang yang sedang sakit, mereka bisa bertambah sakit fisik dan hatinya.
Ada beberapa karakter orang sakit di rumah sakit. Pertama ketakutan, artinya mereka memiliki bayang-bayang yang menakutkan, entah karena mau sekedar disuntik, dioperasi dan ada takut yang sangat yaitu kematian. Ketakutan pertama biasanya relatif ringan untuk menyadarkannya karena mereka sebenarnya sadar tentang sakitnya dan memang mau sembuh dari sakitnya tapi takut untuk menjalani proses penyembuhan.
Adapun ketakutan kedua karena kematian, biasanya daya ilusinya tinggi atau jauh. Sebentar-bentar mimpi bertemu dengan saudara atau teman yang sudah lama meninggal yang seolah memanggil-manggilnya. Atau terkadang melihat bayangan putih di depan pintu atau di palffon kamar rumah sakit sambil melambaikan tangannya.
Apalagi satu kamar atau tetangga ranjangnya sudah meninggal duluan, maka ada pertanyaan yang menyelinap dalam pikirannya,“Apakah malaikat maut akan meneruskan giliran mencabut nyawa dia atau loncat ke pasien kamar sebelah.“ Contoh lain ada saudaranya yang menjenguk sekedar cerita kalau baju kesayangannya hilang kancingnya satu. Kancing hilang dimaknai kematian dirinya. Apalagi kalau dengar sirene ambulance, tambah mengerikan.
Jenis orang ini sangat sensitif terhadap semua yang dirasa, didengar, terlintas dalam pikiran selalu dimaknai dengan tanda-tanda kematiannya sudah dekat dan anehnya tidak mati-mati juga. Sehingga tambah tersiksa dengan bayangan-bayangan yang menakutkan dirinya sendiri, biasanya kalau mati bukan karena penyakitnya tapi sebab rasa takutnya.
Kedua, tidak sabar dengan sakitnya. Orang yang sakit jenis ini mau cepat-cepat sembuh karena tidak tahan lama-lama menjadi penghuni kamar rumah sakit. Misalnya, sudah ada jadwal mau operasi dan tiba-tiba ada penundaan jadwal operasi, padahal sudah puasa dan capek pinggang karena baring terus di ranjang pembaringan. Maka spontan marah dan prasangka jelek bahwa ada “permainan” perawat atau manejemen. Padahal memang antre dan belum gilirannya.
Ada yang menunjukkan ketidaksabarannya dengan sering menangis keras, biasanya pasien kecil. Kasihan sekali melihat anak kecil yang harus dipasang selang infuse atau pakai oksigen hidungnya. Dia belum bisa mengkomunikasikan rasa sakitnya dengan bicara tapi dengan menangis, terus menangis dan meronta-ronta. Bagi yang dekat atau mendengarnya akan terasa haru dan sedih.
Kalau pasien remaja dengan terus mengerang kesakitan,”aduh....aduh….aduh..., sakitnya....sakitnya. ini biasanya yang manja, tidak sebanding dengan gaya mejengnya saat sehat yang seolah-olah paling gagah dan keren. Remaja jenis ini cengeng dan memerlukan kesabaran ekstra untuk menungguinya karena agak menjengkelkan.
Kalau pasien tua biasanya dengan mengeluh sakit ini, itu dan tidak mau ditinggal jauh oleh penunggunya. Sering ngomel-ngomel kalau ada yang tidak pas bantalnya, posisi baringnya atau makanannya. Sisi lain tidak berdaya tapi sisi lain masih mau menunjukkan otoritasnya sebagai orang tua jadi agak menjengkelkan mungkin.
Merawat orang tua atau lansia sakit itu seperti merawat bayi lagi. Tapi ini bayi yang sudah tua jadi lebih sulit. Mau digendong-gendong berat, dinasehati jadi tersinggung dan dimarahi tapi sudah tua, mau dibiarkan nanti jadi durhaka.
Jenis pasien ketiga adalah tenang. Mereka mengisi waktu-waktu baringnya dengan banyak berdzikir dan berdoa. Mereka sudah sangat paham bahwa sakit dan sehat itu dari Allah adapun rumah sakit dengan dokter, perawat dan obat-obatan itu hanya perantara saja. Menjaga pasien seperti ini relative lebih ringan dan sedikit santai karena tidak rewel dan tidak mudah mengeluh.
Pembagian ini hanya mungkin tidak mewakili semuanya tapi secara garis besar saja. Sama-sama sakit tapi berbeda menyikapi dan berbeda juga endingnya. Sehingga keimanan kepada taqdir Allah harus senantiasa ditingkatkan.
Selanjutnya bukan hanya orang sakit saja yang sensitive tapi juga orang yang menjaganya di rumah sakit. Karena menjaga orang pasien itu bukan pekerjaan mudah tapi berat memerlukan tenaga ekstra secara fisik dan psikis. Fisik dan mental harus lebih kuat daripada pasien.
Fisik penjaga pasien harus sehat atau fit karena pertama setiap hari berinteraksi dengan orang sakit. Kedua rumah sakit dinamakan rumah sakit karena banyak penyakit atau orang sakit didalamnya. Lingkungan rumah sakit bergentayangan berbagai bakteri, kuman dan virus. Sehingga dokter dan perawat senantiasa menjaga dirinya dengan masker, sarung tangan dan baju yang setiap hari harus ganti.
Jika penjaga pasien tidak fit maka riskan tertular penyakit atau bahkan mungkin menambah daftar pasien baru lagi. Maka penjaga pasien harus tetap makan dan tidur yang cukup agar tetap fit atau menggerak-gerakan badan untuk relaksasi. Dan idealnya adalah tidak sendirian dan bergantian dengan bergiliran untuk menjaga stamina.
Tugas pertama adalah menemani dengan setia. Agar si pasien tidak merasa asing dan sendirian di rumah sakit sebab kesepian akan semakin pasien menyiksa. Minimal ada teman untuk diajak bicara, berbagi cerita dan mengeluarkan segala unek-uneknya.
Tugas kedua adalani melayani keperluan si pasien dengan segala kesulitannya. Seperti, mengganti pakaian atau pampes, menyuapi makanan dan menyiapkan minum, mencari air panas dan lain sebagainya. Maka penjaga tidak boleh jauh-jauh dari si pasien. Bersiap untuk begadang malam karena harus siap terganggu tidur kalau pasien yang ditunggui minta dikipasi atau dipijati.
Penjaga orang sakit juga harus kuat mental untuk tidak jijik dengan darah, nanah atau hal-hal yang bau. Di kamar mandi untuk membersihkan buang air kecil dan besarnya, luka atau bekas operasi. Itu adalah bagian dari kewajiban penjaga, maka disarankan penjaga pasien adalah saudaranya atau kerabat dekat sehingga memudahkan urusannya.
Tugas ketiga bukan hanya bertanggungjawab terhadap si sakit tapi harus bisa menjembatani komunikasi si sakit dengan dokter, perawat dan manajemen rumah sakit. Si sakit tentu tidak bisa membahasakan yang jelas terhadap keluhan penyakitnya kepada dokter maka penjagalah yang menerangkan segala yang dirasakan si sakit.
Sebagai penjaga maka dia selalu dicari oleh dokter atau perawat terhadap segala keperluan si sakit. Seperti mengantar sampel darah atau sampel kencing ke laboratorium, menukar resep ke apotik, menghadap manajemen rumah sakit terkait administrasi pembiayaan.
Dari banyaknya tugas penjaga pasien maka kesabaran dan tekun wajib dimiliki. Kalau tidak sabar dan tekun maka pasien akan terlantar dan tersiksa karena sering dimarah atau sekalian ditinggal oleh penjaganya.
Kemudian dengan segala kesibukan penjaga pasien yang berujung pada kelelahan tersebut menimbulkan rasa sensitif yang tinggi terhadap semua orang. Apalagi ada perasaan didholimi, diping-pong atau dipersulit dalam mengurus orang yang sakit. Maka mereka bisa marah dan nekat, karena itu aja yang bisa mereka lakukan dalam memperjuangkan haknya.
Maka mereka bisa menyebut jabatannya, asal sukunya atau yang bisa membela halnya. Seperti,“Saya ini....“ sambil menggebrak meja. “Saya ini dari suku........ dan tidak ada yang kami takuti di sini“, sambil melotot matanya menahan marah. “Awas ya, kami laporkan cara kerja bapak yang tidak….“ sambil mengancam lagi.
Sehingga rumah sakit memang harus profesional dan ramah dalam melayani pasien dan keluarga pasien. Tidak semena-mena memperlakukan orang miskin yang berobat pakai surat sakti bukan lembaran rupiah karena mereka tetap manusia yang harus dimanusiakan harga diri dan hak-haknya.
Penjaga pasien juga harus menjaga stamina untuk tidak terlalu kelelahan yang berujung emosional. Semua mau cepat sembuh, namun proses manusiawi dengan perawatan tetap harus dilewati dengan kesabaran dan kesabaran.
Tag :// Bina Hidup Sehat,
Tag :// Cerita Menggugah
Islam adalah agama yang sangat sempurna. Semua sisi kehidupan manusia telah diaturnya dengan sangat rapi. Termasuk dalam urusan berobat dan mengobati penyakit. Semua penyakit pasti ada obatnya. Rasulullah telah menjamin hal itu. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan menciptakan pula obatnya” (HR. Abu Daud) Dalam riwayat lain, “Setiap penyakit itu ada obatnya.” (HR. Muslim). Hadits ini merupakan motivasi kepada kita agar tidak putus asa dalam melawan penyakit.
Setiap penyakit harus kita hadapi dengan optimisme yang disertai usaha dan doa. Berusaha mencari obatnya dan berdoa kepada Allah agar dikaruniai kesembuhan, lalu memasrahkan hasilnya kepada-Nya. Dengan cara seperti ini, Allah akan memenuhi keinginan dan harapan-harapan kita untuk sembuh. Allah berfirman, “Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (ath-Tholaq: 3).
Dalam usaha dan proses mencari obat dan kesembuhan itu kita harus selalu menjunjung tinggi hukum-hukum syari’at. Kita tidak boleh berobat secara bebas tanpa peduli halal dan haram. Syari’at harus tetap menjadi acuan utama dalam memilih obat dan cara pengobatan. Rasulullah bersabda, “Berobatlah kalian dan janganlah berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Daud)
Perkara yang haram dilarang karena hal itu tidak akan mendatangkan kesembuhan yang hakiki. Sebab obat yang haram itu sendiri hakikatnya adalah penyakit. Penyakit yang akan menyerang hati dan jiwa kita yang bahayanya tentu jauh lebih dahsyat. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya dia (khamar) itu bukanlah obat akan tetapi penyakit (HR. Muslim). Allah dan Rasulullahpun sudah memastikan bahwa kesembuhan itu tidak terletak pada perkara-perkara yang diharamkan.
Berobat dengan yang haram meliputi dua hal. Bisa obatnya yang memang haram. Seperti ketika seorang berobat dengan menggunakan khamar atau barang haram lainnya. Bisa juga cara berobatnya yang haram. Seperti ketika seorang berobat dengan bantuan dukun.
Berkaitan dengan berobat kepada dukun, Rasulullah sangat keras dan tegas dalam melarangnya. Hal itu tidak terlalu mengherankan, sebab menggunakan jasa dukun termasuk bentuk kesyirikan. Ancamannya tidaklah ringan. Orang yang mendatangi dukun dan membenarkan perkataannya, akan terjerumus pada kekufuran.
Sebagai gantinya, Islam telah menyiapkan rukyah. Rukyah adalah metode pengobatan yang dilegalkan oleh syari’at. Caranyapun tidak sulit. Cukup dengan membacakan ayat-ayat al-Qur’an atau doa kepada orang yang sakit dengan khusyu’. Cara ini terbilang mujarrab. Rasulullah dan para sahabatnya kerap menggunkan cara ini dalam mengobati penyakit.
Sebagai makhluk yang lemah, apalagi dalam kondisi sakit, kita harus sadar dan yakin bahwa tidak ada penyakit yang menimpa kita kecuali atas izin dan kehendak Allah. Demikian pula dengan kesembuhan, tidak akan mungkin terwujud tanpa izin dan kehendak Allah. Karenanya, pada saat sakit, yang paling kita butuhkan sebenarnya adalah belas kasihan dari Sang Maha Penyembuh.
Tentu saja belas kasihan itu tidak mungkin diraih dengan menggunakan cara-cara yang diharamkan dan dimurkai-Nya. Belas kasihan itu hanya bisa turun jika kita selalu istiqamah di atas aturan yang telah dibuat-Nya. Terutama aturan mengenai memilih obat atau cara pengobatan. Jika hal itu bisa kita lakukan maka insya Allah kesembuahan akan selalu menaungi kita. Amiin!
Tag :// Bina Hidup Sehat,
Tag :// Buka Hati dan Pikiran
Apa yang dimaksud dengan sehat? Menurut Organisasi Kesehatan Sedunia(WHO),“health is defined as a state of complete physical, mental,and social wellbeing and not merely the absence of desease or infirmity", yangberarti “keadaan sejahtera (nyaman) yang meliputi fisik atau tubuh, jiwa atau mental dan sosial yang sempurna, dan bukan hanya suatu keadaan tanpa penyakit”. Sehat secara keseluruhan berarti menyangkut faktor fisik, mental dan sosial. Sedangkan sehat menurut Undang-Undang Kesehatan Nomor 23 Tahun 1992 adalah “keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang atau individu hidup produktif secara sosial dan ekonomis”. Berdasarkan definisi tersebut, seseorang belum di anggap sehat sekalipun ia tidak berpenyakit jiwa dan ataupun raga. Orang tersebut masih dikatakan sehat secara sosial. Hal ini dianggap perlu karena penyakit yang diderita seseorang atau sekelompok masyarakat umumnya ditentukan oleh perilakunya atau keadaan sosisal budaya yang tidak sehat. Sebagai contoh, kebiasaan merokok, minum-minuman keras, akan mengakibatkan penyakit yang berhubungan dengan kebiasaan-kebiasaan tersebut. Demikian pula halnya apabila masyarakat tidak mempunyai perilaku yang menunjang kesehatan. Misalnya masyarakat yang tidak mempunyai kebiasaan mengatur menu yang seimbang, tidak biasa dengan kebersihan, tidak hidup dalam rumah yang sehat, tidak biasa mengamankan buangannya yang berbahaya. Kebiasaan-kebiasaan tersebut didasari ketidakmampuan secara materiil, pengetahuan maupun sosial budaya (Slamet, 1994).
Perkin (1938) dalam(Hardianto, dkk, 1994) menyebutkan sehat adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dengan berbagai
faktor yang berusaha mempengaruhinya. Sehat mental dinyatakan dalam suatu kondisi pada seseorang yang memungkinkan baginya suatu perkembangan fisik, intelektual, maupun emosional yang optimal tanpa rintangan. Sehat sosial adalah kondisi pada seseorang yang memungkinkan pihak yang bersangkutan menunaikan
tugas perikehidupannya ditengah-tengah masyarakat tanpa merasa cemas di dalam memelihara dan memajukan dirinya sendiri , maupun keluarganya sehari-hari.
Sebaliknya sakit berarti suatu keadaan yang dirasakan sangat tidak enak yang disebabkan oleh bermacam-macam faktor. Sakit bisa disebabkan oleh suatu kejadian, atau kelainan yang dapat menimbulkan gangguan terhadap organisme tubuh, bisa juga gangguan terhadap susunan jaringan tubuh, baik fungsi jaringan maupun fungsi tubuh itu sendiri secara keseluruhan. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial, yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Sehat mental adalah suatu kondisi yang memungkinkan kondisi fisik, intelektual maupun emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain. Sehat sosial adalah perikehidupan dalam mas yarakat, perikehidupan ini harus sedemikian rupa sehingga setiap warga negara mempunyai cukup kemampuan untuk memelihara dan memajukan kehidupannya sendiri serta kehidupan keluarganya dalam masyarakat yang memungkinkan bekerja, dan menikmati hiburan pada waktunya (Depkes RI, 1992).
Agar seseorang tetap sehat, ia harus mampu menjaga kebersihan dan kesehatan diri pribadinya. Meskipun upaya ini sebenarnya tidaklah sulit, namun juga bukan sesuatu yang sangat mudah untuk dilaksanakan.Kuncinya adalah perilaku berdisiplin.
Tag :// Bina Hidup Sehat
Pendidikan kesehatan secara umum dapat diartikan sebagai suatu upaya yang diberikan berupa bimbingan atau tuntunan kepada seseorang atau anak didik tentang kesehatan yang meliputi seluruh aspek pribadi (fisik, mental, dan sosial termasuk emosional) agar dapat tumbuh dan berkembang secara harmonis. Pendidikan kesehatan pada dasarnya amat bermanfaat untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya, yang memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis
dan optimal. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan di Sekolah-sekolah diarahkan untuk membina para siswa agar memiliki sikap dan perilaku hidup bersih, sehat, bugar dan berdisiplin. Pendidikan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan peserta didik baik jasmaniah maupun rohaniah melalui pemahaman dan pengamalan gaya hidup sehat bagi peserta didik. Dengan demikian diharapkan anak tumbuh dan berkembang secara wajar dalam aspek jasmani, mental, sosial dan emosionalnya.
Tag :// Bina Hidup Sehat











































